Luar Biasa Akhlak Seorang Muslimah di Amerika Serikat ini

Ir. Hatem Saleh* bercerita:

Dulu saya pernah berkunjung ke Amerika Serikat. Saat itu saya sedang pergi ke sebuah toko besar untuk membeli beberapa keperluan. Saat menunggu waktu pembayaran di kasir, tiba-tiba datang seorang wanita muslimah masuk ke dalam toko. Ia mengenakan hijab yang menutupi seluruh tubuhnya. Dari penampilannya tampak bahwa ia sedang kelelahan karena menarik sebuah kotak besar di depannya. Sepertinya kotak itu berisi mesin pemotong rumput.

Wanita itu kemudian menghadap kasir yang sedang duduk di depan komputer. Terjadilah percakapan berikut:

Dengan adab dan sopan santun yang tinggi wanita itu mengatakan, “Maaf Mbak, kemarin saya membeli mesin ini dari sini seharga 500 USD beserta beberapa barang lainnya.”

Sambil sibuk, si kasir wanita itu menjawab, “Jadi ibu mau mengembalikannya?”

Ibu itu menjawab, “Bukan. Saya cuma mau membayarnya.”

Masih sambil sibuk kasir menjawab, “Saya tidak paham! Bukankah ibu tadi bilang kemarin ibu sudah membelinya. Kalau maksud ibu ada toko lain yang menjualnya lebih murah, kami punya peraturan untuk mengembalikan selisih harganya. Tapi dengan syarat ibu harus menunjukkan bukti bahwa harga barang itu lebih murah di tempat lain. Apa ibu punya buktinya?”

Ibu itu menjawab, “Mbak, saya tidak bermaksud itu semua. Saya kemarin membeli mesin ini bersama dengan barang-barang lainnya dengan menggunakan kartu kredit. Kemudian saya membawanya ke rumah saya yang terletak di daerah A (sambil menyebutkan nama sebuah daerah yang jaraknya kurang lebih 2 jam perjalanan). Ketika masuk rumah, saya meneliti lagi kertas kuitansi (nota pembayaran) dan saya mendapati bahwa Mbak belum memasukkan harga mesin ini ke dalam kuitansi. Saya sudah mencoba untuk menelpon toko supaya anda tidak disalahkan oleh atasan anda karena salah hitung. Tapi jam kerja saat itu tampaknya sudah habis. Lalu saya memutuskan untuk mengambil cuti kerja hari ini guna mengembalikan mesin ini supaya anda menghitung harganya dan saya bisa membayarnya sekarang sehingga anda tidak dihukum oleh atasan anda karena saya. Dan juga supaya saya tidak menggunakan barang yang belum saya bayar harganya.”

Tiba-tiba kasir itu tersentak mendengar penjelasan ibu tadi. Ia terdiam heran sambil memandangi wajah ibu tadi sambil meneteskan air mata. Ia lalu merangkulnya dan menciuminya sambil mengatakan, “Saya tidak paham, mengapa ibu sampai memutuskan untuk kembali hanya untuk membayar harganya, padahal sebenarnya itu semua adalah karena kesalahanku, lalu ibu membawa kotak berat ini ke sini, ibu juga rela mengambil cuti kerja demi semua ini lalu menempuh perjalanan 4 jam pulang-pergi. Mengapa ibu lakukan semua ini?”

Ibu itu menjawab dengan wajah polos seolah-olah ia hanya melakukan suatu perkara biasa, “It’s AMANA (ini adalah amanah)” lalu mulai menjelaskan kepada kasir itu tentang arti amanah dalam Islam.

Kasir itu kemudian membawa wanita itu ke ruangan manajer. Saat itu kami melihatnya dari balik kaca ruangan. Kami tidak mendengar percakapan mereka, akan tetapi tampak bahwa kasir itu sangat terkesan dengan akhlak ibu itu sambil menceritakan kejadian tersebut kepada manajernya.

Beberapa menit kemudian, manajer itu mengumpulkan seluruh karyawannya dalam satu barisan lalu menceritakan kepada mereka kejadian itu di depan mereka.

Ibu itu tampak sangat malu dan sungkan karena merasa tidak melakukan apa-apa kecuali yang sudah menjadi kewajibannya menurut agamanya.

Kemudian para karyawan itu mulai bertanya-tanya tentang ajaran Islam kepada ibu itu. Ia pun menjawabnya dengan penuh percaya diri, tawadhu dan ikhlas.

Setelah selesai, manajer itu memutuskan untuk memberikan mesin itu kepada ibu tersebut sebagai hadiah dari seluruh karyawan. Tapi dengan penuh adab, ibu itu menolak untuk mengambilnya sambil mengatakan bahwa ia hanya mengharapkan pahala, bukan mesin itu. Ia tidak ingin mesin itu menghapus pahala yang jauh lebih besar daripadanya. Tentu saja, penolakan itu justru semakin menambah rasa takjub dari semua orang yang ada di situ.

Setelah itu ibu itu pergi meninggalkan toko dan saya merasa sangat bangga dalam hati. Rasa takjub itu bukan hanya dirasakan oleh para karyawan, tapi juga oleh para pelanggan lain yang juga mengamati kejadian itu dengan penuh kekaguman kepada ibu itu.

*Menteri Perindustrian dan Perdagangan Mesir di Era Mursi.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=844821588888425&id=100000817756379

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: