Secuil Kisah di Titi Merah

​Kemarin ketika saya sedang duduk di masjid seusai shalat Zhuhur, tiba-tiba seorang anak muda lulusan SMA yang selalu shalat berjamaah di masjid datang mendekati saya, lalu bercerita.

Ia menyampaikan bahwa ia punya cita-cita ingin melanjutkan studi agama di luar negeri dan saat ini ia sedang menabung untuk itu. Tapi ia bimbang karena semangatnya kadang naik dan kadang turun. Kalau sedang naik ia ingin menggapai cita-citanya itu. Tapi kalau sedang turun, seakan ia ingin berganti cita-cita lain. Lalu ia minta saran dan pendapat saya.

Sebelum memberikan saran dan pendapat, saya bertanya terlebih dahulu kepadanya tentang kondisi keluarganya. Ternyata keluarganya bukan keluarga yang terpelajar. Kakak-kakaknya banyak yang putus sekolah sejak kecil dan memutuskan untuk bekerja dan menikah. Sedangkan ia sendiri adalah anak ke-5 dari 6 bersaudara.

Mendengar itu, saya merasa sangat salut dan bangga, tapi juga sedih. Salut dan bangga karena cita-citanya yang tinggi dan mulia itu. Yang lebih membanggakan lagi, saya selalu melihatnya shalat fardhu 5 waktu berjamaah di masjid sejak kedatangan saya di bulan Ramadhan kemarin sampai bulan Syawal ini. Seorang pemuda seperti ini seharusnya didukung dan dibantu. Di zaman yang serba modern seperti ini, banyak anak muda yang lalai dari kewajibannya dan terlena dengan kehidupan duniawi serta terseret arus pergaulan. Pemuda seperti ini mulai langka dan mahal harganya.

Tapi di saat yang sama, saya juga sedih karena saya belum bisa memberikan apa-apa. Saya belum bisa banyak membantunya. Yang bisa saya berikan saat itu hanyalah motivasi.

Setelah itu saya mulai memberikan saran dan motivasi kepadanya. Saya sarankan supaya niat itu dijaga dan dipertahankan, sambil selalu berdoa sebanyak-banyaknya dan dikuatkan dengan amalan-amalan sunnah seperti shalat sunnah, dzikir dan sebagainya. 

Saya sampaikan bahwa kita hanya bisa berusaha, sedangkan hasilnya adalah Allah yang menentukan. Tapi penting bagi kita untuk menunjukkan bukti keseriusan kita di hadapan-Nya.

Tunjukkanlah di hadapan Allah bahwa kita serius dan sungguh-sungguh dengan niat ini. Sampaikan kepada Allah bahwa kita benar-benar menginginkan cita-cita itu tercapai dan mohon pertolongan kepada-Nya agar Dia memudahkan tercapainya cita-cita kita itu.

Setelah itu kita pasrah dan tawakkal terhadap keputusan-Nya. Apapun yang diberikan oleh-Nya kepada kita, kita terima dengan penuh kerelaan. Kita harus yakin bahwa apa yang diberikan oleh Allah kepada kita, itulah yang terbaik buat kita menurut-Nya. Sekalipun kadang-kadang menurut kita hal itu tampak kurang atau tidak baik. Karena pandangan kita adalah pandangan yang kerdil. Sedangkan pandangan Allah adalah pandangan yang sempurna dan penuh hikmah. Maka kita harus pasrahkan hasilnya kepada Allah sambil meluruskan pandangan kita yang seringkali keliru ini.

Adakalanya Allah punya rencana lain yang belum kita ketahui. Maka kita tidak boleh berburuk sangka kepada Allah. Sebab kalau kita berburuk sangka kepada-Nya, Dia akan marah lalu memberikan hukuman kepada kita (wal ‘iyadzu billah). Tapi kalau kita rela sambil berbaik sangka kepada-Nya, maka Dia akan rela juga kepada kita dan memberikan kejutan-kejutan menarik yang tak terduga.

Kemudian untuk menghibur hatinya yang sedang gundah, gelisah, risau dan galau itu, saya bercerita tentang pengalaman saya dulu ketika masih seusia SMA seperti dia.

Saya ceritakan bahwa dulu saya juga sama seperti dia. Punya cita-cita ingin belajar ke luar negeri. Maka saya sampaikan impian saya itu kepada Allah di setiap sujud saya, khususnya dalam shalat-shalat sunnah. Saya selalu memohon, “Ya Allah, izinkanlah hamba melanjutkan studi di luar negeri.”

Doa itu selalu saya ulang-ulang dalam banyak sujud saya.

Alhamdulillah akhirnya Allah kabulkan doa itu.

Waktu itu saya belum tahu bagaimana caranya belajar di luar negeri, biaya dari mana, dan sebagainya. Saya hanya punya niat itu saja. Selebihnya saya serahkan dan pasrahkan kepada Allah. Saya hanya yakin kalau Allah berkehendak pasti Dia akan memudahkan caranya, menurut kehendak-Nya dan sesuai kehendak-Nya. Tidak ada yang sulit bagi Allah.

Maka di kemudian hari setelahnya jawaban-jawaban itu baru muncul satu-persatu dengan sendirinya secara jelas dan nyata. Allah kirimkan jawaban itu sebagai bukti janji-Nya.

Begitulah kalau Allah sudah berkehendak, semuanya bisa terjadi. Maka kita harus yakin dan tawakkal kepada-Nya. Setelah itu kita perbaiki hubungan kita dengan Allah. Kita perbanyak amalan-amalan sunnah dan berdoa. Pasti Allah akan menolong kita. Tidak mungkin Allah menelantarkan hamba-Nya yang sungguh-sungguh beribadah dan memohon kepada-Nya.

Setelah itu kami berpisah karena saya harus segera pulang ke rumah. Saya berdoa semoga Allah memudahkan langkahnya menuju cita-cita yang mulia itu. Dan semoga Allah membimbing kita semua menuju ridho-Nya. Aamiin.

Danang Kuncoro Wicaksono

Titi Merah, Batu Bara, 18 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: