Kisah Sapi Betina

Tafsir QS Al-Baqarah 2:67

Dahulu di zaman Nabi Musa, ada seorang lelaki yang kaya raya tapi mandul tidak punya anak. Satu-satunya kerabat yang bisa mewarisinya adalah keponakannya. Suatu hari keponakan itu membunuh pamannya tersebut. Ketika malam tiba, ia meletakkan jenazah pamannya di depan pintu rumah salah seorang warga. Pagi harinya, warga dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan tersebut. Mereka menuduh pemilik rumah yang di depannya diletakkan jenazah itu sebagai pembunuhnya. Pemilik rumah mengelak, lalu terjadilah pertengkaran hebat. Hampir-hampir mereka saling bunuh gara-gara masalah itu.

Salah seorang tokoh warga menyarankan agar mereka segera menemui Nabi Musa, “Kenapa kalian saling bertengkar seperti ini padahal di tengah-tengah kita ada utusan Allah?”

Lalu mereka mendatangi Nabi Musa dan menceritakan kejadian tersebut. Nabi Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah memerintahkan agar kalian menyembelih seekor sapi betina.”

Mereka membalas, “Wahai Musa, jangan berbuat bodoh. Kami datang ke sini bermaksud mencari jawaban dari kasus pembunuhan ini. Apa kamu mau mempermainkan kami?”

Nabi Musa menjawab, “Saya berlindung kepada Allah dari perbuatan bodoh itu. Saya hanya menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada saya.”

Setelah mengetahui keseriusan Nabi Musa, akhirnya mereka mengatakan, “Baiklah kalau begitu, sapi seperti apa yang Dia inginkan?”

Mereka mulai bertanya-tanya tentang ciri-ciri sapi itu. Padahal seandainya mereka tidak bertanya dan langsung mencari sapi betina lalu menyembelihnya, pasti mereka akan mendapatkan jawaban dari masalah mereka. Tapi mereka justru mempersulit diri mereka sendiri, maka Allah pun mempersulit mereka.

Nabi Musa menjawab, “Sesungguhnya sapi yang dimaksud adalah sapi yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, tapi pertengahan di antara keduanya. Sekarang segeralah kalian mencarinya.”

Mendapatkan jawaban itu mereka bukan bergegas untuk melaksanakan perintah Allah tapi justru bertanya lagi denga harapan bisa terbebas dari perintah itu, “Tolong tanyakan kepada Tuhanmu sapi warna apa yang Dia inginkan?”

Nabi Musa menjawab, “Sungguh Dia mengatakan bahwa sapi yang dimaksud adalah sapi berwarna kuning pekat yang menyenangkan setiap orang yang melihatnya.”

Mereka bertanya lagi, “Apa lagi ciri-cirinya karena banyak sapi yang mirip satu dengan yang lain? Kami insyaallah akan menemukannya.”

Nabi Musa menjawab, “Sungguh Dia mengatakan bahwa sapi yang dimaksud adalah sapi yang tidak pernah digunakan untuk membajak sawah, menyiram tanaman, terbebas dari cacat dan tidak ada warna apapun selain warna kuning.”

Mereka mengatakan, “Nah sekarang kamu baru memberikan ciri-ciri yang jelas.”

Mereka pun mulai mencari sapi dengan ciri-ciri yang telah disebutkan oleh Nabi Musa, yaitu sapi yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, berwarna kuning pekat yang menyenangkan apabila dipandang, tidak pernah digunakan untuk membajak sawah, menyiram tanaman dan terbebas dari cacat fisik dan tidak ada warna apapun selain kuning. Mereka mulai merasa kesulitan untuk mencari sapi tersebut.

Setelah sekian lama mencarinya, akhirnya mereka berhasil menemukannya di sebuah rumah anak yatim kecil yang sangat berbakti kepada ibunya dan tidak memiliki apapun selain sapi itu. Mereka mulai melakukan penawaran untuk membelinya. Tapi pemilik sapi itu menolak menjualnya. Setelah mencoba berkali-kali akhirnya pemilik sapi mau menjual sapinya dengan syarat dibeli dengan harga sangat tinggi, yaitu ditukar dengan emas sepenuh kulit sapi tersebut.

Akhirnya mereka bersusah-payah mengumpulkan emas untuk membelinya lalu menyembelihnya sesuai perintah Nabi Musa.

Nabi Musa kemudian mengambil sepotong daging sapi itu lalu memukul-mukulkannya ke jasad lelaki yang terbunuh itu. Lalu Allah mengembalikan nyawa lelaki itu sehingga ia hidup lagi. Nabi Musa bertanya, “Siapa yang telah membunuhmu?”

Lelaki itu menjawab, “Saya telah dibunuh oleh si anu.” Sambil menyebutkan nama keponakan yang telah membunuhnya.

Warga pun segera menangkap lelaki pembunuh itu untuk melakukan qishash (pembalasan) dan lelaki itu pun mereka bunuh.

Allah SWT berfirman:

67. dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.

68. mereka menjawab: ” mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.

69. mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”

70. mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”

71. Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

72. dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.

73. lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu !” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti.

Kisah di atas merupakan bagian dari serangkaian kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh Bani Israel di masa lampau. Mereka sebelumnya telah melakukan banyak pelanggaran seperti mengingkari janji, bermaksiat di hari Sabtu, tidak menerapkahn hukum Taurat, menentang para nabi dan tidak taat perintah Allah.

Allah mengingatkan Bani Israel yang hidup di zaman Nabi Muhammad tentang kejadian yang dialami oleh nenek moyang mereka dahulu di zaman Nabi Musa.

Hikmah Allah menyuruh menyembelih sapi ialah supaya hilang rasa penghormatan mereka terhadap sapi yang pernah mereka sembah.

Karanganyar, 19 Agustus 2015

Ditulis oleh Danang Kuncoro Wicaksono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: