SIAPAKAH YANG MENGAJARKAN TAKWIL PERTAMA KALI?

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إن الله عز وجل يقول يوم القيامة يا ابن آدم مرضت فلم تعدني قال يا رب كيف أعودك وأنت رب العالمين قال أما علمت أن عبدي فلانا مرض فلم تعده أما علمت أنك لو عدته لوجدتني عنده

Sesungguhnya Allah akan berfirman pada hari kiamat kelak, “Wahai anak Adam, Aku dulu pernah sakit tapi kamu tidak menjenguk-Ku.” Orang itu menjawab, “Wahai Tuhan, bagaimana aku menjenguk-Mu padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam.” Allah SWT membalas, “Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tapi kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu bahwa seandainya kamu menjengkunya, kamu pasti menjumpai-Ku di sisinya?” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim:

قال العلماء : إنما أضاف المرض إليه سبحانه وتعالى ، والمراد العبد تشريفا للعبد وتقريبا له

“Ulama mengatakan: sifat sakit dilekatkan kepada Allah SWT padahal maksudnya adalah hamba-Nya sebagai bentuk pemuliaan dan pendekatan untuknya.”

Beliau melanjutkan:

قالوا : ومعنى ( وجدتني عنده ) أي وجدت ثوابي وكرامتي

“Kalimat: pasti kamu menjumpai-Ku di sisinya, maksudnya adalah pasti kamu akan menjumpai pahala dan karamah-Ku (di sisinya).”

Mengenai kalimat “bagaimana aku menjenguk-Mu”, penulis kitab Mir’atul Mafatih menjelaskan maksudnya yaitu:

أي كيف تمرض حتى أعودك

“Bagaimana Engkau sakit sehingga aku menjenguk-Mu?”

Selanjutnya mengenai kalimat “padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam” beliau menjelaskan:

وأنت رب العالمين والرب المالك والسيد والمدبر والمربي والمنعم، وهذه الأوصاف تنافي المرض

“Tuhan adalah raja, tuan, pengatur, pendidik dan pemberi nikmat. Semua sifat itu menafikan sifat sakit.”

Sedangkan Ali Al-Qari menjelaskan kemusykilan kalimat “Allah sakit”:

فإن قيل إن الظاهر أن يقال كيف تمرض مكان كيف أعودك؟ قلنا عدل عنه معتذراً إلى ما عوتب عليه وهو مستلزم لنفي المرض

“Kalau ada yang mengatakan bahwa secara zhahir seharusnya dikatakan: “bagaimana Engkau sakit” sebagai ganti “bagaimana aku menjenguk-Mu”. Maka kami menjawab: dialihkan ke kalimat kedua sebagai bentuk permintaan maaf atas kesalahan yang membuatnya ditegur. Kalimat ini juga mengandung konsekuensi penafian sifat sakit.”

Beliau melanjutkan:

أما علمت أنك لو عدته لوجدتني عنده أي لوجدت رضائي وثوابي وكرامتي

“Tidakkah kamu tahu bahwa seandainya kamu menjenguknya, pasti kamu akan menjumpai-Ku di sisinya. Maksudnya adalah pasti kamu akan menjumpai kerelaan-Ku, pahala-Ku dan karomah-Ku.”

PELAJARAN:

1. Hamba tersebut mengatakan, “Bagaimana aku menjenguk-Mu?” Ini merupakan pertanyaan yang muncul dari fitrah yang lurus dan akal yang sehat. Sebab, sifat sakit mustahil menimpa Allah SWT sehingga wajar jika ia meminta penjelasan tentang maknanya. Seandainya sifat sakit layak bagi Allah, tentu dia tidak akan bertanya seperti itu dan cukup mengatakan di dalam hati, “Sakit Allah tidak seperti sakit makhluk. Sakit bagi Allah adalah sifat kesempurnaan, bukan sifat kekurangan. Sakit yang layak bagi keagungan-Nya.” Tentun ucapan ini adalah kontradiksi yang nyata.

2. Mengalihkan kata “menjumpai-Ku” menuju makna “menjumpai pahala-Ku, kerelaan-Ku, dst.” merupakan takwil tafshili yang banyak dilakukan oleh para ulama terhadap teks-teks mutasyabihat.

3. Allah SWT yang pertama kali mengajari hamba-Nya untuk menakwilkan sifat yang tidak layak bagi Allah kepada makna yang layak bagi-Nya.

Wallahu a’lam bish showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: