Kalangan Anti-Takwil: Antara Bingung atau Berubah Pikiran

Kalangan anti-takwil masih saja memunculkan sikap yang kontradiktif dalam menyikapi teks-teks tentang sifat. Di antaranya ketika menyikapi sifat “bosan” yang dilekatkan kepada Allah SWT. Sebagian di antara mereka akhirnya bergabung dengan kalangan pro-takwil (Ahlussunnah), sebagian lagi bersikukuh dengan anti-takwilnya meskipun harus rela terjebak dalam kebingungan yang nyata.

Sumbernya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

عليكم بما تطيقون فوالله لا يمل الله حتى تملوا وكان أحب الدين إليه مادام عليه صاحبه

“Hendaknya kalian beramal sesuai sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan. Agama yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari menjelaskan:

قوله : ( لا يمل الله حتى تملوا ) هو بفتح الميم في الموضعين ، والملال استثقال الشيء ونفور النفس عنه بعد محبته ، وهو محال على الله تعالى باتفاق

“Arti bosan adalah merasakan berat dan berpalingnya diri dari sesuatu setelah menyukainya. Ini mustahil terjadi pada Allah SWT secara sepakat.”

Imam Al-Khattabi mengatakan:

الملال لا يجوز على الله تعالى بحال، ولا يدخل في صفاته بوجه، وإنما معناه أنه لا يترك الثواب والجزاء على العمل ما لم تتركوه

“Bosan itu tidak mungkin terjadi pada Allah dalam keadaan apapun. Dan tidak termasuk sifat-Nya. Yang dimaksud di sini adalah Dia tidak meninggalkan pahala dan balasan atas amalan selama mereka tidak meninggalkan amalan itu.” (Al-Asmaa wash Shifaat karangan Imam Al-Baihaqi)

Imam An-Nawawi mengatakan:

قال العلماء : الملل والسآمة بالمعنى المتعارف في حقنا محال في حق الله تعالى ، فيجب تأويل الحديث

“Ulama mengatakan bahwa kata ‘bosan’ yang kita kenal selama ini mustahil terjadi pada Allah SWT, sehingga wajib ditakwilkan.” (Syarah Shahih Muslim)

Imam Al-Qurthubi mengatakan:

ظاهره محال على الله تعالى، فإن الملال فتور عن تعب وألم عن مشقة، وكل ذلك على الله تعالى محال

“Makna yang mengemuka dari kata itu mustahil terjadi pada Allah SWT, karena sesungguhnya bosan itu artinya berhenti karena lelah dan merasa sakit karena keberatan. Semua itu mustahil bagi Allah SWT.” (Al-Mufhim: 413)

Begitu juga Imam Al-Maziri mengatakan:

الملالة التي بمعنى السآمة لا تجوز على الله تعالى

“Kata ‘malalah’ yang artinya bosan itu mustahil bagi Allah SWT.”

Kalau kita telusuri kitab-kitab Ahlussunnah lainnya, kita akan mendapati berlipat-lipat kali seperti penjelasan di atas. Sekarang bandingkan dengan perkataan kalangan anti-takwil dalam memahami hadits di atas:

إنَّ هذا دليل على إثبات الملل لله ، لكن ؛ ملل الله ليس كملل المخلوق ؛ إذ إنَّ ملل المخلوق نقص ؛ لأنه يدل على سأمه وضجره من هذا الشيء ، أما ملل الله ؛ فهو كمال وليس فيه نقص ، ويجري هذا كسائر الصفات التي نثبتها لله على وجه الكمال وإن كانت في حق المخلوق ليست كمالاً

“Sesungguhnya hadits ini merupakan dalil penetapan sifat al-malal (bosan) bagi Allah. Akan tetapi, sifat bosan Allah tidaklah seperti sifat bosan makhluk. Sifat bosan makhluk adalah kekurangan, karena hal itu menunjukkan kejemuan dan kebosanan akan sesuatu. Adapun sifat bosan Allah adalah sempurna tanpa ada padanya kekurangan. Sifat ini berjalan sebagaimana seluruh sifat-sifat yang kita tetapkan bagi Allah dalam kesempurnaan; meskipun jika itu ada pada makhluk tidak menunjukkan kesempurnaan.”

Di akhir perkataan ia berkesimpulan:

وعلى كل حال يجب علينا أن نعتقد أنَّ الله تعالى مُنَزَّه عن كل صفة نقص من الملل وغيره ، وإذا ثبت أنَّ هذا الحديث دليل على الملل ؛ فالمراد به ملل ليس كملل المخلوق.

“Bagaimanapun sebenarnya, wajib bagi kita untuk meyakini bahwasannya Allah ta’ala terhindar dari setiap sifat kurang berupa sifat bosan atau yang lainnya. Dan apabila telah shahih bahwa hadits ini menunjukkan sifat bosan, maka maksud dari sifat bosan itu, tidaklah seperti sifat bosannya makhluk.”

Bahkan ada pula yang bersikukuh berpendapat bahwa semua itu bukanlah takwil. Ia mengatakan:

وهذا ليس تأويلاً، بل تفسير الحديث على ظاهره

“Ini bukanlah takwil, melainkan menafsirkan hadits secara zhohir.”

Sekarang pertanyaannya, jikalau memang semua itu tidak disebut takwil tapi tafsir secara zhohir, sekarang apa makna zhohir dari kata ‘bosan’? Kalau dijawab: maknanya tidak diketahui, maka inilah hakikat mazhab tafwidhul ma’na yang mereka ingkari sendiri.

Maka, ambillah pelajaran dari semua ini, wahai orang-orang yang berakal.

Wallahul musta’aan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: