Ibnu Taimiyah dan Takwil Tafshili

Berikut ini beberapa pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa mengenai takwil kata “wajah Allah”:

وقوله : { لا إله إلا هو } يقتضي أظهر الوجهين وهو أن كل شيء هالك إلا ما كان لوجهه من الأعيان والأعمال وغيرهما . روي عن أبي العالية قال : ” إلا ما أريد به وجهه وعن ” جعفر الصادق ” إلا دينه ” ومعناهما واحد . وقد روي عن عبادة بن الصامت قال ” يجاء بالدنيا يوم القيامة فيقال : ميزوا ما كان لله منها . قال : فيماز ما كان لله منها ثم يؤمر بسائرها فيلقى في النار ” . وقد روي عن علي ما يعم . ففي تفسير الثعلبي عن صالح بن محمد عن سليمان بن عمرو عن سالم الأفطس عن الحسن وسعيد بن جبير عن علي بن أبي طالب ” أن رجلا سأله فلم يعطه شيئا . فقال : أسألك بوجه الله فقال له علي . كذبت ليس بوجه الله سألتني إنما وجه الله الحق ألا ترى إلى قوله : { كل شيء هالك إلا وجهه } يعني الحق – ولكن سألتني بوجهك الخلق ” وعن مجاهد ” إلا هو ” وعن الضحاك ” كل شيء هالك إلا الله والجنة والنار والعرش ” وعن ابن كيسان “إلا ملكه”

1.    “Wajah Allah” diartikan dengan “segala sesuatu yang (dilakukan) demi mendapatkan wajah-Nya.”

Ibnu Taimiyah berkata, “Jika yang dimaksud di sini adalah pembicaraan (kalam) mengenai tafsir ayat, maka kami mengatakan: menafsirkan ayat dengan apa-apa yang ma’tsur dan manqul dari perkataan salaf dan mufassirin, yaitu “Segala sesuatu akan binasa kecuali apa-apa yang (dilakukan) demi mendapatkan wajah-Nya,” adalah lebih baik daripada tafsir baru yang dibuat-buat itu (muhdats).” (Majmu’ Fatawa II/23)

2.    “Wajah Allah” ditakwilkan dengan “agama Allah”

Ibnu Taimiyah berkata, “Tauhid ini dan tafsirnya yang telah disebutkan dalam hadits: Ketahuilah bahwa segala sesuatu selain Allah adalah bathil, adalah serupa dengan firman Allah, “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah Allah.” Setelah ayat “Sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir. Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Qashash: 86-88)

Kemudian beliau melanjutkan, “Diriwayatkan dari Ja’far Ash-Shadiq (maksudnya yaitu): kecuali agama Allah.” (Majmu’ Fatawa II/258)

3.    “Wajah Allah” diartikan dengan “Kebenaran” (Al-Haq)

Ibnu Taimiyah berkata, “Telah diriwayatkan dari Ali (bin Abi Thalib) sesuatu yang umum. Dalam tafsir Ats-Tsa’labi dari Shalih bin Muhammad, dari Sulaiman bin Amr, dari Salim Al-Afthas, dari Al-Hasan dan Said bin Jubair, dari Ali bin Abi Thalib, bahwa seorang laki-laki meminta kepadanya tapi beliau tidak memberinya, lalu laki-laki itu berkata, “Aku memintamu dengan wajah Allah.” Ali menjawab, “Bohong kau! Bukan dengan wajah Allah kau memintaku, karena wajah Allah adalah Al-Haq (kebenaran).” (Majmu’ Fatawa II/258)

4.    “Wajah Allah” diartikan dengan “Allah” itu sendiri

Ibnu Taimiyah berkata, “Diriwayatkan dari Mujahid (bahwa maksud dari kata wajah Allah adalah): Allah.” (Majmu’ Fatawa II/258)

5.    “Wajah Allah” diartikan dengan “Allah, Surga, Neraka dan Arsy”

Ibnu Taimiyah berkata, “Diriwayatkan dari Adh-Dhahak: segala sesuatu pasti binasa kecuali Allah, Surga, Neraka dan Arsy.” (Majmu’ Fatawa II/258)

6.    “Wajah Allah” diartikan dengan “Kiblat Allah”

Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataan, ‘Kau menginginkan wajah ini’, maksudnya adalah arah ini atau sisi ini. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” Maksudnya adalah kiblat Allah atau pandangan Allah. Demikianlah pendapat Jumhur Salaf, meskipun mereka menganggapnya termasuk dalam ayat sifat.” (Majmu’ Fatawa II/259)

7.    “Wajah Allah” diartikan dengan “agama Allah”, “kehendak Allah”, “ibadah kepada Allah”

Ibnu Taimiyah berkata, “Firman Allah: Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya, maksudnya adalah agama-Nya, kehendak-Nya dan ibadah (kepada)-Nya.” (Majmu’ Fatawa II/261)

8.    “Wajah Alah” diartikan dengan “Dzat Allah”

Ibnu Taimiyah berkata, “Maka kepada dasar inilah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dikembalikan, “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya.” Sebagaimana ayat, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” Sesungguhnya kekalnya wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah kekalnya Dzat-Nya.” (Majmu’ Fatawa II/262)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: