Memalingkan Kata “Lupa” Kepada Makna “Meninggalkan” Termasuk Takwil

Di antara makna takwil adalah memalingkan sebuah kata dari makna hakikinya menuju makna majazinya. Contohnya kata “lupa” memiliki dua makna: hakiki dan majazi. Makna hakiki dari kata “lupa” adalah lawan kata dari ingat atau hafal. Sedangkan makna majazinya adalah meninggalkan. Oleh karena itu, apabila disebutkan kata “lupa” yang dilekatkan kepada Allah, misalnya “Allah lupa” atau “Allah melupakan” maka maksudnya adalah “Allah meninggalkan”, sebab makna hakikinya mustahil bagi Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

“Orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raaf: 51)

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 67)

فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Maka rasakanlah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini (Hari Kiamat); sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 14)

وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

“Dan dikatakan (kepada mereka): “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong.” (QS. Al-Jaatsiyah: 34)

Abu Hurairah RA meriwayatkan:

قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ فِي الظَّهِيرَةِ لَيْسَتْ فِي سَحَابَةٍ قَالُوا لَا قَالَ فَهَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ فِي سَحَابَةٍ قَالُوا لَا قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ رَبِّكُمْ إِلَّا كَمَا تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا قَالَ فَيَلْقَى الْعَبْدَ فَيَقُولُ أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى قَالَ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ فَيَقُولُ لَا فَيَقُولُ فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي

Bahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat?” Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kalian terhalang melihat matahari di siang hari yang tidak tertutup awan?” Mereka menjawab: “Tidak, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama yang tidak tertutup awan?” Para sahabat menjawab: “Tidak, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah yang menggenggam jiwaku. Kalian tidak akan terhalang melihat Tuhan kalian kecuali sebagaimana kalian melihat salah satu dari keduanya (matahari dan bulan). Pada hari itu Allah akan menemui setiap hamba lalu berkata: ‘Wahai hamba, bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu pemimpin, menikahkanmu, menundukkan untukmu kuda dan unta. Aku biarkan kalian memimpin dan mengambil seperempat (dari harta rampasan perang)?’ Hamba itu menjawab, ‘Benar wahai Allah.’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu pernah menyangka bahwa engkau akan bertemu dengan-Ku?’ Hamba itu menjawab, ‘Tidak.’ Allah berfirman, ‘Sungguh pada hari ini Aku akan melupakanmu sebagaimana kamu dulu melupakan-Ku.'” (HR. Muslim)

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya lalu beliau mengatakan:

وَمَعْنَى قَوْلِهِ « الْيَوْمَ أَنْسَاكَ ». يَقُولُ الْيَوْمَ أَتْرُكُكَ فِى الْعَذَابِ. هَكَذَا فَسَّرُوهُ

“Makna ‘pada hari ini Aku akan melupakanmu’ adalah ‘Aku akan meninggalkanmu dalam siksaan’. Demikianlah para ulama menafsirkannya.”

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsirnya surat Al-Baqarah ayat 106 mengatakan:

والأظهر أن حمل النسيان على الترك مجاز ، لأن المنسي يكون متروكاً ، فلما كان الترك من لوازم النسيان أطلقوا اسم الملزوم على اللازم.

Yang lebih benar bahwa mengartikan ‘lupa’ dengan ‘meninggalkan’ merupakan majaz. Karena sesuatu yang dilupakan biasanya ditinggalkan, maka kata ‘meninggalkan’ termasuk konsekuensi (lazim) dari kata ‘lupa’ sehingga mereka biasa mengganti kata asal (malzum) dengan lazimnya.”

Jadi, memaknai kata “lupa” dengan “meninggalkan” adalah termasuk takwil karena kata “meninggalkan” merupakan makna majazi dari kata “lupa”, bukan makna hakikinya. Tulisan ini menjadi sanggahan terhadap kalangan yang mengingkari takwil terhadap teks-teks sifat.[1]

Wallahu a’lam bish showab.

___

[1] Kemudian saya mendapatkan faidah dari tulisan Ust. Ibnu Abdillah Al-Katibiy jazahullahu khairan yang dimuat dalam blog ASWJ-RG. Di situ disebutkan:

Imam asy-Syaukani mengatakan :

والنسيان الترك: أي تركوا ما أمرهم به، فتركهم من رحمته وفضله، لأن النسيان الحقيقي لا يصح إطلاقه على الله سبحانه، وإنما أطلق عليه هنا من باب المشاكلة المعروفة في علم البيان

” Dan Nisyan adalah at-tark yakni ” Tinggalkan lah (terjemah yang lebih tepat adalah: mereka meninggalkan, -Danang) apa yang Allah perintahkan pada mereka, maka Allah meninggakan mereka dari rahmat dan keutamaan-Nya. Karena Nisyan makna secara hakekatnya tidaklah sah dinisbatkan kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya lafaz nisyan dinisbatkan atas Allah di sini hanyalah dari segi bab musyakalah yang sudah ma’ruf dalam ilmu Bayan “. [1]

Imam Fath ar-Razi mengatakan :

نسوا الله فنسيهم واعلم أن هدا الكلام لا يمكن إجراؤه على ظاهره لأنا لو حملناه على النسيان على الحقيقة لما استحقوا عليه ذما، لأن النسيان ليس في وسع البشر، وأيضا فهو في حق الله تعالى محال فلا بد من التأويل

” Mereka lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka ” ketahuilah sesungguhnya ucapan ini tidak mungkin memberlakukannya secara (makna) dhahirnya, kerana jika kita artikan Nisyan secara hakekatnya, maka mereka tidak berhak mendapat celaan, sebab nisyan bagi manusia bukanlah perkara yang dimaukan manusia, dan juga nisyan bagi Allah adalah mustahil, maka wajib ditakwil “. [2]

Imam al-Qadhi Abu Bakar ibn ‘Arabi mengatakan :

” Hadits-hadits sahih dalam bab ini – yakni dalam bab shifat- terbagi menjadi tiga tingkatan :

Pertama : Sifat yang lafaz-lafaznya datang dengan menunjukkan kesempurnaan semata, tidak ada aib atau kekurangan. Maka ini wajib diyakini.

Kedua : Sifat yang lafaz-lafaznya ada kekurangan, maka ini tidak ada bagian sedikitpun bagi Allah, tidak boleh disandarkan kepada-Nya kecuali ia terhalang darinya dalam makna secara dharurat saja seperti firman-Nya, ” Wahai hambaku, aku sakit kenapa tidak menjengukku “, dan semisalnya.

Yang ketiga : sifat yang lafaz-lafaznya ada kesempurnaan akan tetapi mewahamkan taysbih “.[3]

Kemudian beliau melanjutkan :


” Adapun sifat yang datang dengan kesempurnaan semata seperti sifat wahdaniyyah, ilmu, qudrah, iradah, hayat, sama’, bahsar, ihathah, taqdir dan tadbir, tidak ada sekurtu, maka tidak ada pembicaraan di antara ulama dan tidak ada no coment. Adapun sifat yang lafaznya datang dengan kekurangan semata seperti firman Allah Ta’ala ” Siapakah yang mau menghutangkan Allah dengan hutang yang baik ” dan firman-Nya ” Aku lapar kenapa kamu tidak memberikan aku makan “, maka semua orang baik yang alim maupun yang jahil mengetahui bahwa hal itu adalah kinayah (sindiran), akan tetapi Allah menyandarkan hal itu kepada dzat-Nya yang Mulia lagi Suci sebagai kemuliaan kepada wali-Nya dan sebagai kehormatan dan pelembutan bagi hati…

Maka jika ada lafaz-lafaz yang muhtamal (mengandung makna yang banyak) yang terkadang dari satu sisi datang untuk kesempurnaan dan satu sisi lainnya kadang untuk kekurangan / aib, maka wajib bagi setiap muslim yang cerdas untuk menjadikannya makna kinayah / sindiran yang boleh atas-Nya, dan menafikan dari apa yang tidak boleh atas-Nya. Maka ucapan di dalam tangan, pergelangan tangan dan jari adalah kalimat-kalimat indah yang menunjukkan makna-makna mulia, karena kalimat saa’id (pergelangan tangan) menurut orang Arab kadang terarahkan pada makna kekuatan dan kesangatan, dan disandarkan kalimat saa’id kepada Allah kerana sesungguhnya segala urusan milik Allah. Demikian juga ucapannya : ” Sesungguhnya sedekah itu jatuh di telapak tangan Allah yang Maha Pengasih “, diibaratkan dengan kalimat telapak tangan, dimaksudkan penjagaan orang miskin sebagai kemuliaan dan apa yang dibalik dengan jari jari itu ebih mudah dan ringan dan lebih cepat “.[4]

[1] Fath al-Qadir : 2/379

[2] Tafsir ar-Razi : 16/126

[3] Al-‘Awashim min al-Qawashim : 228

[4] Al-‘Awashim min al-Qawashim : 228

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: