Sisi Lain Takwil dan Tahrif Menurut Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan dalam Majmu Fatawa (6/19) :

وَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّا لَا نَذُمُّ كُلَّ مَا يُسَمَّى تَأْوِيلًا مِمَّا فِيهِ كِفَايَةٌ وَإِنَّمَا نَذُمُّ تَحْرِيفَ الْكَلِمِ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَمُخَالَفَةَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْقَوْلَ فِي الْقُرْآنِ بِالرَّأْيِ

“Telah berlalu (penjelasan) bahwa kami tidak mencela setiap yang disebut sebagai takwil yang di dalamnya terdapat penjelasan yang cukup. Yang kami cela hanyalah tahrif (penyimpangan) kalimat dari tempatnya dan menyelisihi Quran, Sunnah serta menafsirkan Quran dengan ro’yu (opini).”

Kemudian beliau mengatakan:

وَيَجُوزُ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ أَنْ تُفَسَّرَ إحْدَى الْآيَتَيْنِ بِظَاهِرِ الْأُخْرَى وَيُصْرَفَ الْكَلَامُ عَنْ ظَاهِرِهِ ؛ إذْ لَا مَحْذُورَ فِي ذَلِكَ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ ، وَإِنْ سُمِّيَ تَأْوِيلًا وَصَرْفًا عَنْ الظَّاهِرِ فَذَلِكَ لِدَلَالَةِ الْقُرْآنِ عَلَيْهِ وَلِمُوَافَقَةِ السُّنَّةِ وَالسَّلَفِ عَلَيْهِ ؛ لِأَنَّهُ تَفْسِيرُ الْقُرْآنِ بِالْقُرْآنِ ؛ لَيْسَ تَفْسِيرًا لَهُ بِالرَّأْيِ ، وَالْمَحْذُورُ إنَّمَا هُوَ صَرْفُ الْقُرْآنِ عَنْ فَحْوَاهُ بِغَيْرِ دَلَالَةٍ مِنْ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالسَّابِقِينَ كَمَا تَقَدَّمَ . وَلِلْإِمَامِ أَحْمَد – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – رِسَالَةٌ فِي هَذَا النَّوْعِ وَهُوَ ذِكْرُ الْآيَاتِ الَّتِي يُقَالُ : بَيْنَهَا مُعَارَضَةٌ وَبَيَانُ الْجَمْعِ بَيْنَهَا وَإِنْ كَانَ فِيهِ مُخَالَفَةٌ لِمَا يَظْهَرُ مِنْ إحْدَى الْآيَتَيْنِ أَوْ حَمْلُ إحْدَاهُمَا عَلَى الْمَجَازِ

“Diperbolehkan menurut kesepakatan kaum muslimin untuk menafsirkan salah satu ayat dengan zhahir ayat yang lain serta memalingkan kalimat dari zhahirnya. Sebab tidak ada satu pun dari kalangan Ahlus Sunnah yang melarang hal itu, meskipun hal itu dinamakan takwil dan pemalingan dari zhahir. Semua itu disebabkan adanya petunjuk dalam Quran yang menuju kepadanya dan adanya kesesuaian dengan Sunnah dan Salaf. Karena hal itu dinamakan tafsir Quran dengan Quran bukan tafsir Quran dengan ro’yu. Sedangkan yang dilarang adalah memalingkan Quran dari maksudnya tanpa ada petunjuk dari Allah, Rasulullah dan para ulama pendahulu sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Imam Ahmad rahimahullah memiliki sebuah karya tulis tentang masalah ini, di dalamnya beliau menyebutkan ayat-ayat yang dianggap saling bertentangan beserta penyelesaiannya, meskipun di dalamnya terdapat penjelasan yang menyelisihi salah satu makna yang mengemuka (zhahir) dari dua ayat atau memaknai salah satu ayat dengan makna majaz.”

Nukilan di atas bukan dalam rangka mendukung pendapat Ibnu Taimiyah dalam masalah takwil karena pendapat beliau dalam masalah ini sudah masyhur dan tidak perlu saya jelaskan di sini. Nukilan di atas hanya untuk menunjukkan sisi lain perkataan beliau yang barangkali belum diketahui sebagian orang. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: