Beberapa Kaidah Penting Dalam Memahami Nama dan Sifat Allah SWT

Perlu diketahui bahwa Allah SWT memiliki banyak nama dan sifat. Dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah, diperlukan beberapa kaidah penting agar pemahaman menjadi benar. Setidaknya ada lima kaidah penting yang harus diketahui. Al-Hakim Abu Abdillah Al-Husain bin Al-Hasan Al-Hulaimiy menyebutkan tentang beberapa hal yang wajib diyakini terhadap Allah SWT sebagai berikut:

  1. Pertama, menetapkan adanya Allah SWT, agar terhindar dari paham ta’thil (meniadakan tuhan).
  2. Kedua, menetapkan wahdaniyah (keesaan) Allah SWT, agar terhindar dari paham syirik (menyekutukan tuhan).
  3. Ketiga, menetapkan bahwa Allah bukanlah jauhar (materi), agar terhindar dari paham tasybih (menyerupakan tuhan).
  4. Keempat, menetapkan bahwa segala yang wujud selain Allah SWT adalah ciptaan-Nya semata, agar terhindar dari paham illah dan ma’lul.
  5. Kelima, menetapkan bahwa Allah SWT adalah yang mengatur ciptaan-Nya sesuai kehendak-Nya, agar terhindar dari paham thaba’i, tadbirul kawakib atau tadbirul malaikat.

Kelima hal di atas diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya berjudul “Al-Asmaa’ wash Shifaat“.

Ada beberapa nama yang harus ditetapkan bagi Allah SWT dan diyakini keberadaannya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Al-Qadiim

Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Imraan bin Hushain RA, ia menceritakan: “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Kami mendatangi Anda untuk menanyakan perkara ini.’ Lalu Rasulullah SAW menjawab, ‘Dahulu hanya ada Allah SWT dan belum ada sesuatu apapun.'”

Arti al-Qadiim adalah keberadaan tanpa permulaan dan keberadaan tanpa akhir (al-maujuud alladzi laisa liwujudihi ibtidaun wal-maujud alladzi lam yazal). Asal kata al-Qadiim adalah as-Saabiq artinya yang mendahului. Allah dinamai al-Qadiim karena keberadaan-Nya mendahului segala yang ada. Oleh karena itu, tidak bisa dikatakan bahwa keberadaan Allah memiliki permulaan. Karena seandainya keberadaan-Nya memiliki permulaan, berarti ada keberadaan lain yang mewujudkan keberadaan Allah sehingga menimbulkan pemahaman bahwa ada keberadaan lain sebelum Allah. Jika demikian halnya maka Allah tidak lagi mendahului segala yang ada.

2. Al-Awwal dan Al-Aakhir

Dasarnya adalah firman Allah SWT, “Dialah (Allah) yang Maha Awal dan Maha Akhir.” (QS. Al-Hadid: 3) dan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW apabila hendak berbaring di tempat tidurnya beliau membaca doa ini:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ ، وَرَبَّ الأَرْضِ ، وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى ، مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ ، أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْء

“Ya Allah tuhan langit, tuhan bumi dan tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan benih, Yang menurunkan Taurat, Injil dan Quran. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala yang jahat yang Engkau memiliki kekuasaan atas mereka. Engkaulah Yang Maha Awal tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkaulah Yang Maha Zhahir tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Maha Bathin tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu.”

Doa serupa juga diriwayatkan oleh Ummu Salamah dari Rasulullah SAW:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلا قَبْلَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلا شَيْءَ بَعْدَكَ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ نَاصِيَتِهَا بِيَدِكَ

“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan setiap makhluk yang Engkau berkuasa atas mereka.”

Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Orang-orang akan terus bertanya kepada kalian tentang segala sesuatu. Hingga mereka akan menanyakan: Allah telah menciptakan segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah? Apabila kalian ditanya tentang itu, maka jawablah: Allah telah ada sebelum segala sesuatu, Dialah Pencipta segala sesuatu, dan Dia akan kekal setelah segala sesuatu.”

Al-Hulaimiy mengatakan:

فَالأَوَّلُ هُوَ الَّذِي لا قَبْلَ لَهُ ، وَالآخِرُ هُوَ الَّذِي لا بَعْدَ لَهُ ، وَهَذَا لأَنَّ قَبْلَ وَبَعْدَ نِهَايَتَانِ ، فَقَبْلُ نِهَايَةُ الْمَوْجُودِ مِنْ قَبْلِ ابْتِدَائِهِ ، وَبَعْدُ غَايَتُهُ مِنْ قَبْلِ انْتِهَائِهِ ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ ابْتِدَاءٌ وَلا انْتِهَاءٌ لَمْ يَكُنْ لِلْمَوْجُودِ قَبْلُ وَلا بَعْدُ ، فَكَانَ هُوَ الأَوَّلُ وَالآخِرُ

Al-Awwal adalah yang tidak ada apapun sebelumnya, sedangkan Al-Aakhir adalah yang tidak ada apapun setelahnya. Karena “sebelum” dan “setelah” adalah batas. Kata “sebelum” berarti batas permulaan, sedangkan “setelah” adalah batas akhir. Jika Dia tidak memiliki permulaan dan tidak memiliki akhir, berarti tidak ada sesuatu pun sebelum dan setelahnya. Maka, Dialah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir.”

3. Al-Baaqi

Arti al-Baaqi adalah ad-Daaim (kekal). Allah SWT berfirman, “Segala yang ada di muka bumi akan binasa. Dan akan tetap kekal wajah Tuhanmu Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26-27)

Al-Hulaimiy menjelaskan:

وَهَذَا أَيْضًا مِنْ لوازمِ قَوْلِهِ : قَدِيمٌ ، لأَنَّهُ إِذَا كَانَ مَوْجُودًا لا عَنْ أَوَّلٍ وَلا بِسَبَبٍ لَمْ يَجُزْ عَلَيْهِ الانْقِضَاءُ وَالْعَدَمُ ، فَإِنَّ كُلَّ مُنْقَضٍ بَعْدَ وُجُودِهِ ، فَإِنَّمَا يَكُونُ انْقِضَاؤُهُ لانْقِطَاعِ سَبَبِ وُجُودِهِ ، فَلَمَّا لَمْ يَكُنْ لوُجُودِ الْقَدِيمِ سَبَبٌ ، فَيُتَوَهَّمُ أَنَّ ذَلِكَ السَّبَبَ إِنِ ارْتَفَعَ عُدِمَ عَلِمْنَا أَنَّهُ لا انْقِضَاءَ لَهُ

“Ini adalah salah satu konsekuensi dari sifat al-Qadiim. Karena jika keberadaan Allah tanpa permulaan dan sebab, berarti Dia tidak akan pernah sirna dan binasa. Karena sesuatu yang binasa pasti disebabkan oleh terputusnya sebab keberadaannya. Oleh karena keberadaan Allah bukan karena sebab apapun, maka keberadaan-Nya akan tetap kekal tanpa akhir.”

Abu Sulaiman Al-Khattabi mengatakan:

الدَّائِمُ الْمَوْجُودُ لَمْ يَزَلْ ، الْمَوْصُوفُ بِالْبَقَاءِ ، الَّذِي لا يَسْتَوْلِي عَلَيْهِ الْفَنَاءُ ، قَالَ : وَلَيْسَتْ صِفَةُ بَقَاءِهِ وَدَوَامِهِ كَبَقَاءِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَدَوَامِهِمَا ، وَذَلِكَ أَنَّ بَقَاءَهُ أَبْدِيٌّ أَزَلِيٌّ ، وَبَقَاءُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ أَبْدِيُّ غَيْرُ أَزَلِيٍّ ، وَصِفَةُ الأَزَلِ مَا لَمْ يَزَلْ ، وَصِفَةُ الأَبَدِ مَا لا يَزَالُ ، وَالْجَنَّةُ وَالنَّارُ مَخْلُوقَتَانِ كَائِنَتَانِ بَعْدَ أَنْ لَمْ تَكُونَا ، فَهَذَا فَرْقُ مَا بَيْنَ الأَمْرَيْنِ وَاللَّهُ أَعْلَم

Ad-Daaim (kekal) artinya adalah selalu ada dan tidak pernah binasa. Sifat kekekalan ini tidak sama dengan sifat kekekalan surga dan neraka. Sebab, kekalnya Allah bersifat abadi sekaligus azali, sedangkan kekalnya surga dan neraka bersifat abadi tapi tidak azali. Sifat azali adalah tanpa awal, sedangkan sifat abadi adalah tanpa akhir. Surga dan neraka adalah dua makhluk (yang diciptakan) setelah sebelumnya tidak ada. Inilah perbedaan antara keduanya. Wallahu a’lam.”

(disarikan dari kitab Al-Asmaa wash Shifaat karya Al-Imam Al-Baihaqi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: