Ketika Penyakit Berubah Menjadi Obat

🌿KETIKA PENYAKIT BERUBAH MENJADI OBAT🌿

Imam Al-Junaid bercerita:

Suatu malam, saya tidak bisa tidur. Saya bangun untuk melakukan wirid, tapi saya tidak mendapatkan kelezatan yang biasanya saya dapatkan. Lalu saya beranjak untuk tidur, tapi tidak bisa. Saya coba untuk duduk, saya tidak tahan. Lalu saya membuka pintu dan keluar rumah. Tiba-tiba saya berjumpa dengan seorang lelaki berselimut kain sedang tergeletak di jalan.

Ketika merasakan kedatangan saya, lelaki itu mengangkat kepalanya lalu berkata kepada saya, “Wahai Abul Qasim (panggilan Al-Junaid), sampai saat ini aku harus menunggu, kau baru datang?”

Saya menjawab, “Wahai tuanku, tanpa ada janji terlebih dahulu?”

Lelaki itu menjawab, “Saya sudah membuat janji. Saya telah memohon kepada Yang menggerakkan hati agar menggerakkan hatimu kepadaku.”

Saya menjawab, “Sungguh Dia telah melakukannya. Lalu apa keperluan anda sekarang?”

Lelaki itu kemudian bertanya, “Kapan sebuah penyakit hati berubah menjadi obat bagi hati itu sendiri?”

Saya menjawab, “Ketika hati itu menyelisihi keinginannya, maka penyakit hati akan berubah menjadi obatnya.”

Lalu lelaki itu memandangi dirinya sendiri sembari mengatakan, “Wahai jiwa, dengarlah. Sungguh saya telah menjawabmu dengan jawaban ini sebanyak tujuh kali. Tapi kamu tetap saja enggan menerimanya, sampai kamu mendengarnya sendiri dari Al-Junaid. Dan sekarang kau telah mendengarnya.”

Kemudian ia beranjak pergi dari saya. Saya tidak pernah menjumpainya lagi dan saya tidak mengenalnya.

📙Sumber: Az-Zuhd Al-Kabir karangan Imam Al-Baihaqi rahimahullah.

🌺🌹PELAJARAN🌹🌺

Pelajaran dari kisah di atas di antaranya:

💐1. Ketinggian derajat Imam Al-Junaid

Imam Al-Junaid adalah salah seorang tokoh sufi terbesar dalam sejarah. Beliau hidup pada abad ke-3 Hijriah dan tinggal di Bagdad, Irak.

Imam Abu Nu’aim mengatakan, “Al-Junaid telah menguasai ilmu syariat.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Beliau termasuk salah satu golongan Arifin (orang-orang yang mencapai derajat makrifat).”

Imam As-Subki mengatakan, “Beliau adalah pemuka kaum sufi dan pemimpin mereka.”

Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Beliau adalah guru kaum Arifin, panutan bagi orang-orang yang meniti jalan akhirat dan pemimpin para wali di zamannya.”

💐2. Kekuatan iman para wali

Wali adalah orang yang dekat dan dicintai oleh Allah. Seorang wali senantiasa menjaga dirinya agar tidak melakukan perkara yang membuat Allah tidak rela. Adakalanya seorang wali bukanlah orang terkenal seperti Imam Al-Junaid, melainkan seorang yang tampak biasa sebagaimana lelaki yang bertanya kepada Imam Al-Junaid. Menyakiti wali berarti menantang Allah untuk berperang.

Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi:

من عادى لي وليا ، فقد آذنته بالحرب

“Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh ia telah mengumandangkan perang terhadap-Ku.” (HR. Bukhari)

💐3. Cara mengobati penyakit hati

Hati yang berpenyakit selalu ingin melakukan perkara-perkara yang dilarang oleh Allah SWT. Keinginannya mendorong dirinya untuk melakukan maksiat dan dosa. Oleh karena itu, cara mengobati penyakit hati adalah dengan menahan diri dari setiap keinginan buruk yang terdetik di dalam hati. Setiap muncul keinginan untuk melakukan keburukan di dalam hati, maka seseorang harus menahan dirinya agar tidak melakukannya. Dengan cara demikian, lambat laun penyakit hati akan menghilang. Wallahu a’lam.

✏Ditulis oleh: Danang Kuncoro Wicaksono
✉Email: dannsbass@gmail.com
🌏FB: fb.com/danang.kuncoro.wicaksono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: