Sowan ke Kiyai Ubaidillah di Ma’had Al-Fatah Temboro

Safar kali ini benar-benar sangat berkesan bagi saya. Baru pertama kali ini saya bertemu dengan orang nomor satu di kalangan komunitas yang dikenal dengan nama Jamaah Tabligh di Markas Besar mereka di Temboro, Jawa Timur.

Safar ini kami lakukan sejak Sabu siang, 24 Januari 2015. Pesertanya adalah para ustadz Asabiqunal Awalun di Ma’had Isy Karima, di antaranya Ust. Zainal Abidin, Ust. Asmawi, Ust. Syarqun, Ust. Apip Najar, Ust. Muhsinin, Ust. Yazid, Ust. Abdullah, Ust. Fauzul Mubin, Ust. Zainal Amri, Ust. Imam Maliki, Ust. Alif Bahtiar, Ust. Zarkasyi, Ust. Samiuddin, Ust. Fajar Murdianto dan Ust. Abdul Mujib. Ikut serta juga Ust. Syihab dan Gus Hanif. Hampir semuanya membawa keluarga masing-masing: istri dan anak-anak sekaligus.

Rencananya, kami harus sudah sampai di lokasi Markas sebelum Ashar. Namun dengan takdir Allah, kami sampai di sana hampir Magrib. Akhirnya sesampai di sana kami langsung disambut oleh panitia penerima tamu yang sangat ramah dan berpakaian gamis khas pondok, lalu dibawa menuju suatu ruangan di dekat masjid untuk meletakkan barang bawaan sekaligus persiapan shalat Magrib. Rombongan dipisah, asatidz dan anak laki-laki dibawa menuju Markas, sedangkan ummahat dibawa ke tempat lain, dekat pondok putri.

Adzan Magrib berkumandang, kami pun bergegas menuju masjid yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari tempat peristirahatan. Kami menjamak dan menqosor Magrib dengan Isya. Seusai shalat, sejenak kami menyaksikan aktivitas di dalam masjid. Mereka shalat sunnah rawatib, lalu membaca Surat Yasin di halaqoh, lalu berdoa bersama-sama dipandu oleh seorang ustadz yang belakangan baru kami ketahui namanya adalah Kiyai Ubaidillah.

Setelah itu, kami diajak berbincang-bincang bersama salah seorang ustadz senior, saya lupa namanya. Beliau bercerita panjang-lebar tentang aktivitas di pondok pesantren yang diberi nama Al-Fatah tersebut. Dari cara berbicaranya, saya melihat ada ketawadhuan, kesederhanaan, kejujuran dan keikhlasan. Beliau sehari-hari berjalan dengan menggunakan alat bantu berupa tongkat kruk (crutch) alias tongkat ketiak. Tulang kaki beliau sebelah kanan sedang dalam masa penyembuhan. Ketika Ustadz Syihab bertanya apakah sudah diperiksakan ke dokter tulang, beliau menjawab sudah, di Solo dengan dr. Tunjung. Saya tidak tahu apakah beliau sadar bahwa yang sedang bertanya saat itu adalah menantunya dr. Tunjung.

Setelah itu, kami dipersilahkan untuk menyantap hidangan malam yang telah disediakan di halaman ruang peristirahatan kami. Hidangan yang sangat lezat bagi ukuran pesantren. Entah karena masakannya enak atau saya yang saat itu sedang lapar, atau mungkin kedua-duanya, makan malam kali ini terasa sangat nikmat. Di sela-sela makan mereka tak henti-henti mengajak kami berbincang-bincang, mulai dari bertanya nama, asal dan berbagi cerita. Mereka sangat ramah.

Seusai makan malam, kami istirahat.

Setelah shalat malam dan dilanjutkan Shubuh berjamaah di masjid, kami mendengarkan taushiyah sekitar setengah jam. Yang menyampaikan adalah seorang anak muda yang belakangan baru kami ketahui namanya adalah Yusuf dan beliau adalah keponakan Kiyai Ubaidillah. Subhanallah, kualitas Gusnya hampir sama dengan kualitas Kiyainya.

Selepas taushiyah di masjid, kami dipersilahkan menuju pendopo untuk berjumpa dengan Kiyai Ubaidillah. Inilah acara intinya. Di sinilah kami mendapatkan pelajaran-pelajaran penting dan hikmah-hikmah berharga dari beliau. Pertemuan yang relatif singkat tersebut ternyata memberikan banyak manfaat bagi kami.

Saya tidak menyangka bahwa laki-laki yang baru saja menjadi imam Shubuh tadi adalah orang nomor satu di tempat itu. Beliaulah “imam”nya para Jamaah Tabligh di seluruh Nusantara yang selama ini sering kita jumpai berkeliling di berbagai tempat. Ternyata beliau masih muda, atau setidaknya tampak muda. Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya: seorang kakek yang usianya menginjak kepala 80 atau 90 tahun.

Beliau yang pertama menyapa kami. Yang pertama kali disapa adalah Ust. Asmawi. Ingatan beliau ternyata masih kuat, karena beliau tepat ketika menyebut kota Magelang, asal Ust. Asmawi. Beliau kemudian menyapa Ust. Zainal Abidin dan menanyakan asam uratnya, apakah masih kambuh.

Lalu Ust. Zainal Abidin memperkenalkan kami satu-persatu kepada beliau.

Setelah itu beliau mulai bercerita tentang perjalanan pondok pesantren yang dirintis oleh mendiang ayah beliau tersebut, serta lika-liku di dalamnya.

Beliau mengatakan bahwa penting bagi kita untuk menciptakan pesantren-pesantren kecil di setiap keluarga. Pesantren-pesantren itulah yang kelak akan melahirkan para penghafal Al-Quran sebelum usia baligh. Beliau memberikan contoh anak-anak kiyai di situ yang kebanyakan telah hafal sebelum baligh. Yang mengejutkan, ternyata rata-rata anak hafal Quran di sana ketika lulus SD/MI. Ada sebagian anak yang cemerlang berhasil menghafal ketika kelas 2 atau 3 SD. Semua itu diperoleh dari pesantren-pesantren kecil yaitu keluarga.

Beliau juga bercerita tentang aktivitas olah raga di sana, yaitu Boxing, berkuda, memanah, pedang, double stick, tongkat dan lain-lain. Beliau kemudian mengaitkan antara latihan olah raga dengan kemampuan survive di medan dakwah. Latihan mereka menjadikan mereka tahan banting ketika melewati medan-medan dakwah yang sulit seperti daerah-daerah pelosok di Papua atau kepulauan Maluku.

Sambil bercerita, kami dijamu dengan suguhan minuman kopi hangat. Dengan nada santai beliau berkelakar, “Hadzihi qohwah muqowwiyah. Zaujah wahidah laa takfii.” Disambut gelak tawa asatidz. Ternyata beliau seorang humoris. Dan humornya sangat bermutu, hehe.

Saat bercerita tentang khuruj (keluar untuk berdakwah), beliau menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah untk membagi waktu kita, 27 untuk keluarga dan pondok, sedangkan 3 hari untuk umat dan masyarakat. Beliau juga menerangkan kiat-kiat supaya para istri siap ditinggal untuk berdakwah. Bagaimana kiatnya?

Mengenai kiat agar para istri tahan ditinggal berdakwah, perlu adanya kerjasama yang kuat antara suami-istri itu sendiri dan juga lingkungan sekitar yang mendukung. Mereka sadar bahwa aktivitas khuruj itu hanya dilakukan selama 3 hari. Sehingga mereka masih punya waktu 27 hari sebulan. Suami-istri juga harus memahami esensi dakwah dan keutamaannya sehingga mereka satu fikir dan satu langkah dalam menjalannya bersama. Bahkan Kiyai menjelaskan bahwa aktivitas khuruj ini semakin menambah kerinduan suami-istri untuk kembali berjumpa. Beliau kembali berkelakar, “Jadi kami setiap saat seperti pengantin baru, selalu melepas rindu setelah berpisah.”

Selanjutnya beliau menyinggung masalah ta’addud. Dalam kamus ta’addud, 1 ditambah 1 tidak selalu jadi 2, kadang-kadang jadi 1 atau bahkan nol. Kalau kata orang kampung, yang mau ta’addud syaratnya harus sakti dulu. Dan ternyata beliau telah mempraktekkan ucapannya. Istri beliau 4 orang. Full. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam berta’addud. Salah satunya adalah dengan menciptakan bi’ah (lingkungan) seperti pada zaman sahabat. Kalau di zaman sekarang, satu orang ta’addud akan dicemooh oleh masyarakat sekitar.

Beliau juga bercerita kejadian kristenisasi yang dilawan dengan dakwah. Yaitu tentang Romo Mangun yang telah menghabiskan miliaran rupiah untuk mengkristenkan ratusan penduduk suatu kampung. Kemudian dari Temboro diutus para pendakwah untuk mengembalikan penduduk yang telah murtad tersebut. Dalam waktu sehari, dengan izin Allah mereka kembali kepada Islam seluruhnya. Hal itu membuat Romo Mangun stress dan tak lama setelah itu ia meninggal dunia. Padaha ia telah menyiapkan beberapa bus untuk mengangkut penduduk yang telah dimurtadkan tersebut guna dibaptis. Namun tak seorang pun yang menaiki bus tersebut karena mereka telah kembali menjadi muslim.

Beliau juga bercerita tentang pentingnya menghafal matan, khususnya bagi para dai. Beliau mengatakan, “Mutunuha hushunuha.” Yang paling utama adalah Al-Quran matan hadits. Di sana, santri yang berhasil menghafal matan 1000 hadits akan diumrohkan. Ternyata setelah berita itu diumumkan, antusias santri sangat tinggi sehingga yang berhasil menghafal jumlahnya banyak. Akhirnya, pada pengumuman berikutnya disampaikan bahwa yang berhasil menghafal akan mendapatkan “hadiah khusus” tanpa ditentukan bentuknya.

Di sana juga biasa diadakan daurah untuk para remaja usia SMA selama 3 hari. Dan hasilnya luar biasa, ratusan pelajar berubah drastis sejak saat itu juga. Bahkan ada yang ketika mengikuti daurah masih memakai anting-anting. Setelah keluar daurah, semangat beribadah mereka melonjak tinggi. Mereka mengatakan, “Kami biasa menghabiskan waktu kami untuk hal sia-sia selama berjam-jam setiap hari. Sekarang kami akan menggunakannya untuk beribadah.” Bahkan sebagian guru agama di sekolah mereka menangis melihat perubahan tersebut.

Pelatihan atau daurah itu juga sering diadakan untuk para pejabat pemerintahan dan militer. Hasilnya luar biasa, para istri mereka terkejut melihat perubahan drastis pada suami mereka. Setidaknya intensitas konflik dalam rumah menjadi berkurang. Kekerasan sikap para suami menjadi berkurang. Semangat beribadah meningkat dan seterusnya.

Sebenarnya masih banyak kisah-kisah nyata menarik lainnya yang beliau sampaikan pagi itu. Sayangnya tidak direkam. Jadi sebagiannya masih diingat dan sebagiannya lagi terlupa. Kadang-kadang muncul lagi ketika ada momen yang terkait. Apalagi detil-detil kisah dan bahasa yang digunakan Kiyai saat itu tidak bisa semuanya diceritakan dalam tulisan ini.

Setelah bercengkerama dengan beliau, kami dipersilahkan untuk sarapan bersama. Beliau juga turut menemani. Setelah itu, kami diajak berkeliling kampung Temboro dan melihat aktivitas belajar santri di pondok-pondok mereka, mulai dari tingkat MI sampai tingkat akhir.

Kesan pertama yang saya rasakan di sana adalah adanya kesederhanaan, ketenteraman, ketawadhuan, kesungguhan dalam bekerja –bukan hanya urusan dunia saja tapi juga urusan akhirat. Kemudian kedermawanan, kerja sama dan persaudaraan yang kokoh. Kehidupan mereka seolah-olah telah diseting sedemikian rupa sehingga seragam, searah dan sewarna.

Dalam hal keilmuan pun mereka tidak main-main. Empat dari enam kitab hadits (kutubus sittah) dikaji di sana, yaitu Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud dan Sunan At-Tirmidzi. Kitab-kitab kuning berbahasa Arab diajarkan sejak SD. Mulai dari nahwu, shorof, fikih dan seterusnya. Uniknya, penjelasan atau syarahnya disampaikan dalam bahasa Jawa krama. Ketika salah seorang ustadz yang memandu kami saya tanya alasannya, beliau menjawab bahwa kita hidup di tanah Jawa dan di lingkungan Jawa, sehingga kita harus paham bahasa Jawa. Saya pikir ada benarnya jawaban beliau, sebab para rasul dahulu diutus dengan bahasa kaumnya (QS. Ibrahim: 4)

Kami diantar berkeliling kompleks pesantren dengan menaiki odong-odong. Sesuatu yang unik dan cukup menarik perhatian. Saya jadi terinspirasi membayangkan sebuah pesantren yang di samping sebagai tempat menimba ilmu juga sebagai wisata ruhani bagi para pengunjung. Sehingga mereka bisa melihat aktivitas “menyejukkan” dalam lingkungan pesantren. Siapa tahu hal itu menjadi pengantar masuknya hidayah ke dalam hati mereka.

Kami dibawa ke kompleks MI. Ketika sampai di halaman sekolah, gadis-gadis kecil yang sedang bermain bola di lapangan bergegas menutup wajah-wajah mereka dengan cadar. Malu. Subhanallah… Kelas mereka tidak ada kursinya. Hanya ada meja kecil dan alas. Mereka duduk lesehan.

Kemudian kami diantar menuju tingkatan selanjutnya yaitu setingkat SMP. Lebih unik lagi, kamar tidur mereka menjadi kelas. Jadi di dalamnya ada lemari-lemari yang tersusun rapi di sepanjang dinding kamar. Ketika malam, ruangan itu menjadi tempat tidur mereka. Ketika siang, ia berubah menjadi kelas. Minimal, simpel dan berkah. Namun juga tidak meninggalkan sisi kebersihan dan kerapian.

Selanjutnya kami dibawa ke lingkungan yang lebih tinggi, setingkat SMA. Mereka sudah lebih dewasa dan sopan. Setiap memasuki kompleks, kami diharuskan melepas alas kaki. Jadi di dalamnya, semua orang ‘nyeker’ sehingga alasnya tetap bersih dan suci.

Kemudian kami dibawa menuju koperasi yang berisi semua keperlian santri mulai dari peralatan mandi sampai kitab-kitab Arab maupun terjemahnya tersedia di sana.

Setelah itu kami berpamitan pulang.

Di antara pesan-pesan Kiyai Ubaidillah yang masih saya ingat:

Menghafal matan bagi seorang dai atau ulama ibarat senjata. Siapa yang tidak hafal matan akan menjadi seperti orang awam. Bagaimana ia akan berdalil kalau matannya tidak hafal. Setidaknya matan Al-Quran dan matan hadits. Di sana, santri yang hafal kitab Minhajut Tholibin diberi hadiah umroh gratis. Ketika saya tanya berapa santri yang sudah pernah menghafalnya, salah seorang ustadz menjawab ada sekitar 8 santri. Subhanallah. Kitab yang ditulis oleh Imam Nawawi tersebut termasuk referensi terpenting dalam kajian fikih Syafi’i. Hingga saat ini, kitab tersebut terus dikaji dan disyarah oleh para ulama. Setidaknya ada 4 kitab syarah utama masih terus dikaji di pesantren-pesantren salaf.

Ujian tahfizh dilaksanakan selama tiga hari 30 juz. Mengutip hadits: tidak dianggap faqih orang yang khatam kurang dari 3 malam. Kriteria lulusnya adalah memiliki kesalahan atau lupa tidak lebih dari 60 kali. Jadi, rata-rata 2 kali kesalahan setiap juz. Lebih dari itu dianggap tidak lulus. Dalam prakteknya, ada sebagian santri yang tidak memiliki kesalahan sama sekali dalam ujian. Subhanallah.

Danang Kuncoro Wicaksono
Karanganyar, 26 Januari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: