Kurikulum Pembelajaran di Kuttab: Kilas Balik Sejarah Islam

Kemajuan Kaum Muslimin dalam Metode Pengajaran

Dalam catatan perjalanannya, Ibnu Jubair mendeskripsikan tentang sejauh mana kemajuan metode pengajaran anak-anak yang berkembang di Damaskus pada saat itu. Ia mengatakan, “Pendidikan Al-Quran untuk anak-anak di negeri-negeri Timur Tengah ini semuanya menggunakan metode Talqin. Mereka juga mengajarkan cara menulis (khot) pada syair-syair, sebagai bentuk penghormatan terhadap Al-Quran supaya tidak dipermainkan oleh anak kecil karena ditulis lalu dihapus lagi. Adakalanya di sebagian besar tempat, guru talqin dan guru tulis dibedakan, sehingga terpisah antara pelajaran Talqin dan pelajaran menulis. Dalam hal itu mereka memiliki pengalaman yang baik. Oleh karena itu, mereka memiliki tulisan yang bagus, sebab sang guru tidak sibuk mengajar pelajaran lain. Ia hanya sibuk mengajarkan pelajarannya saja. Murid pun dalam belajar demikian. Hal itu dilakukan demi kemudahan.”

Jadi, metode pengajaran di Kuttab telah mencapai fase puncak. Kaum muslimin telah mengetahui sistem pemisahan dalam materi pelajaran. Mereka menjadikan untuk setiap mata pelajaran seorang guru khusus yang ahli di bidangnya. Bahkan, kaum muslimin di Timur Tengah fokus pada kaligrafi anak-anak mereka. Hal inilah yang menarik perhatian Ibnu Jubair sehingga hal itu yang menjadi keistimewaan institusi pendidikan Islam di wilayah Timur Tengah.

Sistem pendidikan di Timur Tengah berjalan seperti apa yang dituturkan oleh Ibnu Jubair pada tahun 580 H. Kita dapati Ibnu Batutah dalam perjalanannya yang fenomenal itu juga menuturkan tentang apa yang diceritakan oleh Ibnu Jubair sebelumnya selama lebih dari 150 tahun. Ibnu Batutah bercerita tentang para guru di masjid Umawi di Damaskus:

“Di situ terdapat sejumlah pengajar Al-Quran yang masing-masing bersandar pada tiang-tiang masjid. Mereka mentalqin dan mendengarkan bacaan anak-anak kecil. Mereka tidak menulis Al-Quran di papan-papan sebagai bentuk penghormatan terhadap Al-Quran. Mereka hanya membaca Al-Quran secara talqin. Guru khot (tulis) berbeda dengan guru Al-Quran. Guru mengajarkan mereka menulis syair-syair dan tulisan lainnya. Selesai dari pelajaran Al-Quran, murid berpindah menuju pelajaran menulis, sehingga tulisan mereka indah karena guru khot tidak mengajar selain pelajaran menulis.”

Jika kita amati, kita akan mendapati bahwa dahulu anak-anak belajar Al-Quran di masjid-masjid. Kemudian setelah itu mereka berpindah ke pelajaran menulis dan kaligrafi untuk mempelajari tatacara membaca dan menulis yang benar dengan seorang ahli khot.

Pendidikan Moral Kepada Anak dalam Persepsi Islam

Adapun pendidikan moral kepada anak-anak dengan cara memukul, para ahli fikih telah meletakkan sejumlah kaidah yang berkaitan dengan hal itu. Artinya, kaum muslimin telah memperhatikan masalah pendidikan anak dan pengajaran moral kepada mereka sejak usia dini. Ibnu Muflih Al-Maqdisi (w.763H) dalam Al-Adab Asy-Syar’iyah mengatakan:

“Abu Abdillah (Imam Ahmad) pernah ditanya tentang seorang guru memukul anak kecil, lalu beliau menjawab: Sesuai kadar kesalahannya, dan ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak memukul. Apabila anak itu masih kecil dan belum berakal, maka jangan ia pukul.”

Banyak ulama dan fuqoha yang memperingatkan para pengajar dan guru agar tidak berlebihan dalam memukul anak atau memperlakukan mereka dengan perlakuan yang kasar. Al-Abdari mengatakan, “Hendaknya dihindari secara total perilaku sebagian guru di zaman ini (abad ke-8 Hijriah), yaitu mereka menggunakan alat yang dijadikan sebagai alat pemukul seperti kayu Loz (Tonsillitis) kering, pelepah kurma, kayu falaqoh dan semacamnya. Semua itu tidak pantas dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai pengajar Al-Quran. Padahal dalam hadits disebutkan, “Barangsiapa menghafal Al-Quran maka seakan-akan disisipkan kenabian di antara kedua pundaknya, hanya saja tidak diturunkan wahyu kepadanya.” (HR. Al-Hakim)

Kegiatan Kuttab

Kegiatan Kuttab tidak terbatas pada pengajaran dan pendidikan semata. Bahkan Kuttab memiliki peran sosial yang sangat penting. Kaum muslimin tidak mengizinkan adanya dinding pembatas antara Kuttab dan masyarakat. Oleh karena itu, Kuttab berinteraksi dengan masyarakatnya dan terlibat dalam kehidupan sehari-hari mereka. “Apabila wafat seorang ulama yang dulu mengajarkan ilmunya, atau seorang pemimpin yang dulu memberikan manfaat kepada negeri dengan pemikiran dan karyanya, atau seorang amir yang adil dalam hukumnya, kuttab-kuttab akan meliburkan kegiatannya pada hari pemakamannya sebagai bentuk partisipasi dan belasungkawa serta penghormatan terhadap jasa orang shalih tersebut.”

Ketika gubernur Mesir, yaitu Ahmad Ibnu Thulun, semakin parah sakitnya, para pengajar Kuttab di Mesir mengumumkan untuk keluar bersama anak-anak didik mereka menuju lapangan terbuka untuk berdoa kepada Allah memohon kesembuhan untuk Ibnu Thulun.

Oleh karena itu, para pengajar dan pendidik juga melibatkan anak-anak didik mereka dalam permasalahan-permasalahan umum yang terjadi di masyarakat. Ibnu Suhnun mengatakan, “Apabila masyarakat ditimpa paceklik dan pemimpin mengumumkan istisqo (memohon hujan), maka dianjurkan bagi pengajar untuk keluar bersama murid-muridnya yang mengerti shalat untuk memohon kepada Allah dengan doa dan membiasakan mereka melakukan hal itu. Karena telah sampai kepada saya riwayat bahwa kaum Nabi Yunus alaihissalam ketika ditimpa azab mereka keluar bersama anak-anak kecil mereka lalu mengajak mereka memohon kepada Allah dengan penuh penghambaan.”

Yang mengagumkan juga, perhatian Fuqoha’ murobbi terhadap kesehatan anak-anak di Kuttab. Mereka menganjurkan agar anak yang sakit dipisahkan dari teman-temannya yang lain agar tidak ada penyebaran penyakit.

Ibnul Hajj al ‘Abdari berkata: Seharusnya jika ada salah seorang anak yang mengeluh sakit mata di Kuttab atau sakit badan lainnya dan anak itu benar, maka guru memulangkannya ke rumahnya dan tidak dibiarkan berada di Kuttab. (al Madkhal 1/322)

Hal itu dilakukan agar keluarganya memperhatikannya dan mengobatinya, serta dikhawatirkan penyebaran penyakit di antara anak-anak. Diminta kepada guru, agar melarang anak-anak memakan makanan dan manisan yang terbuka dan dihinggapi lalat. Guru tidak boleh membiarkan seorang pun membeli makanan dari penjual yang berjualan di depan Kuttab, jika akan menimbulkan masalah jika membelinya. (al Madkhal 1/313)

Perhatian Kuttab dalam masalah kesehatan, hingga menjadwal kehadiran dokter dalam setiap bulan. (at Ta’lim fi Mishr Zaman al Ayyubiyyin h. 145)

http://islamstory.com/ar/%D9%85%D9%86%D9%87%D8%AC-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B1%D8%A7%D8%B3%D8%A9-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%AA%D9%8A%D8%A8-%D8%B3%D8%A8%D9%82-%D8%A5%D8%B3%D9%84%D8%A7%D9%85%D9%8A

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: