Fatwa Majelis Islam Suriah tentang Organisasi ISIS

Pertanyaan:

Anda semua tahu apa yang sedang terjadi di Suriah sejak diumumkannya Negara Irak dan Syam atau lebih dikenal dengan singkatan ISIS serta apa yang telah mereka lakukan terhadap warga Suriah yaitu berupa pengkafiran, pembunuhan dan peledakan.

Orang-orang berbeda pendapat dalam menyikapi mereka. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah Khawarij yang harus dibasmi. Ada pula yang mengatakan bahwa mereka adalah Bughot (pemberontak). Ada pula yang mengatakan bahwa mereka adalah kelompok yang wajib dihindari dan siapa saja harus tetap fokus memerangi Rezim Zalim (Basyar Asad). Ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah negara yang benar dan wajib bagi siapa saja untuk berbaiat kepadanya dan berperang di bawah benderanya.

Lalu bagaimakah ketentuan Syariat dalam menyikapi mereka dan apa yang harus kita lakukan terhadap mereka? Berilah kami fatwa, semoga Allah memberikan pahala kepada Anda semua.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Tidak ada perlawanan kecuali terhadap kaum yang zalim. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, seluruh sahabatnya dan para pengikut mereka hingga hari kiamat.

Selanjutnya, sungguh Allah telah memberikan anugerahkepada penduduk Suriah dengan karunia Jihad di jalan-Nya melawan rezim thoghut yang kejam.Kendati di dalamnya terdapat rasa sakit dan perngorbanan yang diakibatkan oleh kejamnya musuh serta pengkhianatan dari dekat dan jauh. Akan tetapi, Allah telah meneguhkan mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan-Nya, serta memberikan kemenangan-kemenangan yang tidak terduga.

Satu hal yang paling membedakan Jihad di Suriah sejak hari pertama adalah kemurnian dan keikhlasan hanya untuk Allah Ta’ala, tanpa ada penyimpangan di dalam tujuan atau sarananya. Meskipun kekuatan militer dan sumber dana keuangan sangat minim.

Kemudian tak lama setelah itu sebuah bencana menampakkan wajahnya dengan munculnya Negara Irak dan Syam yang menebarkan berbagai bencana dan keburukan serta penyimpangan-penyimpangan dari syariat. Oleh karena itu, harus ada penjelasan tentang keberadaan mereka serta bagaimana semestinya penduduk Suriah menyikapi mereka.

Organisasi ini (ISIS) telah melakukan berbagai pelanggaran agama dan kejahatan nyata sebagai berikut:

  1. Memecah-belah rakyat Suriah dengan deklarasi sebuah Negara tanpa dasar syariat yang dibenarkan, tanpa kejelasan visi, tanpa melalui musyawarah dan tanpa adanya aparatur pemerintahan yang resmi dan realistis.
  2. Klaim bahwa mereka berada di atas jalan yang benar sedangkan selain mereka adalah kafir, pelaku bid’ah atau sesat. Berdasarkan dasar klaim itu, mereka menetapkan vonis-vonis yang membahayakan.
  3. Ekstrim dalam menjatuhkan vonis kafir dan melakukan seleksi manusia berdasarkan hal itu, sehingga kalimat-kalimat pengkafiran, tuduhan pengkhianatan disertai intimidasi dan rencana pembunuhan menjadi hal-hal yang biasa dilakukan oleh simpatisan organisasi ini tanpa adanya pengingkaran apapun. Bahkan sebagian mereka melampaui batas ketika menjadikan hukum asal bagi kaum muslimin di Suriah adalah kafir dan murtad. Bahkan sebagian mereka menganggap bahwa Rezim Asad dan pendukungnya lebih mulia daripada mujahidin dan para pejuang revolusi.
  4. Menuduh setiap pihak yang tidak sepaham dengan mereka dengan tuduhan antek, pengkhianat Jihad dan para “Sohawat”, meskipun berasal dari kalangan terpercaya atau mujahidin yang melawan Rezim Asad dan pendukungnya.
  5. Mereka menolak memutuskan perkara di pengadilan-pengadilan agama yang khusus menangani masalah persengketaan dan perselisihan, kecuali pengadilan yang tunduk di bawah kekuasaan ISIS dan mengikuti kebijakan mereka.
  6. Mereka menyibukkan faksi-faksi perlawanan terhadap Rezim Asad dengan penyerangan-penyerangan yang mereka lakukan untuk memperluas wilayah mereka dan memaksa baiat kepada mereka, serta mengesampingkan perlawanan terhadap musuh bersama. Mereka juga terus berupaya menguasai sumber-sumber ekonomi dan militer dari wilayah-wilayah yang mereka rampas dari mujahidin.
  7. Mereka sengaja melakukan serangan frontal terhadap berbagai faksi perlawanan di Suriah, brutal dalam menumpahkan darah dan melakukan pelecehan terhadap kehormatan manusia.
  8. Mereka menculik para aktivis, jurnalis, mujahidin dan dai, serta menghentikan kegiatan-kegiatan bantuan dan dakwah dengan dalih keraguan dalam manhaj serta tuduhan antek dan pengkhianat.
  9. Mereka sendiri melakukan pengkhianatan terhadap para delegasi yang dikirim untuk berunding kepada mereka. Mereka menculik, menyiksa dan membunuh sebagian besar delegasi itu. Berita tentang para korban pengkhianatan mereka itu telah tersebar di mana-mana sehingga setiap orang mengetahuinya, baik warga Suriah maupun non-Suriah.

Seluruh indikasi dan fakta tersebut membuktikan bahwa sebenarnya organisasi ini telah menjadi mesin aborsi bagi perlawanan terhadap Rezim Asad di Suriah dan penebar perpecahan, pembunuhan, pengrusakan serta pemusnah keberkahan negeri.

Maka, kewajiban yang harus ditunaikan bersama adalah melawan dan menghentikan aktivitas organisasi ini di Suriah dengan menggunakan seluruh potensi dan media yang dibenarkan. Hal itu wajib dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut:

Pertama, mereka menolak tunduk pada kebenaran dan melakukan peperangan dengan dasar penolakan tersebut. Apabila diajak untuk berunding dan berhukum dengan syariat, mereka menolak dan melawan.

Para ulama telah bersepakat mengenai kewajiban memerangi kelompok yang menolak melakukan kewajiban dan meninggalkan keharaman, terlebih dalam kondisi seperti di Suriah saat ini.

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah mengatakan dalam Majmu’ Fatawa, “Para ulama Islam telah bersepakat bahwa kelompok yang menolak sebagian kewajiban Islam yang jelas dan mutawatir, maka wajib hukumnya memerangi mereka. Apabila mereka mengucapkan dua kalimat syahadat namun menolak shalat dan zakat atau puasa Ramadhan atau haji ke Tanah Suci atau berhukum dengan Al-Quran dan Sunnah atau menolak mengharamkan perbuatan kotor atau syariat-syariat Islam semisalnya, maka mereka harus diperangi atas dasar semua itu hingga agama Allah tegak secara sempurna.

Kedua, penganiayaan mereka terhadap orang-orang yang jiwa dan harta mereka terlindungi. Padahal Allah telah memerintahkan untuk menolak penganiayaan.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh karena membela jiwanya, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh karena membela agamanya, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh karena membela keluarganya, maka ia syahid.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi: hasan shahih)

Ketiga, pembangkangan mereka. Apabila kelompok pembangkang wajib diperangi hanya dikarena sikap pembangkangan mereka, maka kelompok yang menggabungkan antara pembangkangan dengan sikap berlebihan dalam mengkafirkan tanpa dasar yang dibenarkan, lebih wajib untuk diperangi. Allah SWT berfirman, “Apabila dua kelompok dari kaum muslimin sedang bertikai, maka damaikanlah mereka berdua. Apabila salah satu dari mereka membangkang terhadap kelompok lainnya, maka perangilah kelompok yang membangkang tersebut hingga mereka kembali kepada perintah Allah. Apabila mereka kembali, maka damaikanlah mereka berdua dengan keadilan. Berbuat adillah kalian, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (QS. Al-Hujurat: 9)

Imam Al-Qurthubi mengatakan dalam Tafsirnya, “Dalam ayat ini terdapat dalil tentang wajibnya memerangi kelompok pembangkang yang pembangkangan mereka telah diketahui oleh Sang Imam (pemimpin) atau salah satu umat Islam.”

Keempat, kemiripan mereka dengan kelompok Khawarij yang Rasulullah SAW memerintahkan untuk memerangi mereka. Sungguh telah berkumpul pada mereka sifat-sifat Khawarij sehingga menjadikan mereka serumpun secara hukum. Kemiripan itu berupa pengkafiran orang-orang yang berbeda paham dengan mereka, peperangan terhadap umat Islam, sikap sombong, menolak kebenaran secara angkuh dan berpaling dari ucapan-ucapan para ulama, merendahkan orang lain, bodoh terhadap hukum-hukum agama, keras dan kasar terhadap kaum muslimin, sembrono terhadap mereka, disertai pengkhianatan, pembatalan perjanjian secara sepihak dan penyelewengan amanah.

Nabi SAW telah menyeru untuk memerangi kelompok yang memiliki sifat-sifat seperti itu. Beliau bersabda, “Maka di manapun kalian menjumpai mereka, maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya terdapat pahala di hari kiamat nanti bagi siapa yang membunuh mereka.” (Muttafaq ‘Alaih)

Beliau juga bersabda, “Seandainya aku bertemu dengan mereka, pasti aku akan membunuh mereka seperti dibunuhnya kaum ‘Ad.” (Muttafaq ‘Alaih)

Bahkan Nabi SAW menganggap mayat mereka sebagai mayat paling buruk, sedangkan mayat kaum muslimin yang terbunuh di tangan mereka sebagai mayat paling baik. Beliau bersabda, “Beruntunglah siapa saja yang membunuh mereka atau dibunuh oleh mereka. Mereka menyeru kepada Kitab Allah padahal sedikit pun mereka tidak mengamalkannya. Barangsiapa memerangi mereka, maka ia lebih berhak mendapatkan ridho Allah daripada mereka.” (HR. Abu Daud)

Beliau bersabda, “(Mereka adalah) seburuk-buruk mayat yang terbunuh di bawah kolong langit. Sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang mereka bunuh.” (HR. Ahmad)

Tidak diperbolehkan ragu-ragu dalam memerangi mereka atau menolak memerangi mereka. Bahkan wajib melakukan yang demikian itu hingga mereka kembali dari pembangkangan dan kezaliman mereka serta tunduk pada pengadilan-pengadilan agama yang independen dan menghentikan segala macam tindakan kejam mereka secara nyata, bukan hanya dalam pengakuan. Allah SWT berfirman, “Maka perangilah kelompok yang membangkang hingga mereka kembali pada perintah Allah.” (QS. Al-Hujurat: 9)

Imam At-Thabari mengatakan dalam Tafsirnya: “Apabila salah satu dari kedua kelompok itu enggan memenuhi seruan untuk kembali kepada hukum kitab Allah dan mereka melampaui hukum yang telah Allah jadikan sebagai neraca keadilan bagi hamba-Nya, sedangkan salah satu dari kedua kelompok itu menerima. (Maka perangilah kelompok yang membangkan) maksudnya: maka peranglah kelompok yang melampaui batas tersebut dan enggan menyambut seruan kepada hukum Allah. (Hingga mereka kembali pada perintah Allah) yaitu hingga mereka kembali pada hukum Allah yang berlaku di antara hamba-Nya.”

Adapun terkait tawanan mereka, maka siapa saja di antara mereka yang kita ketahui bahwa ia termasuk di antara korban propaganda dan kita mendapati tanda-tanda taubat darinya, maka kita akan melepaskannya dengan syarat ia tidak kembali kepada pemikiran atau kelompoknya.

Sedangkan siapa saja yang menolak memerangi mereka dengan dalih bahwa perang ini adalah fitnah (bencana), maka ini adalah alasan yang keliru (batil) karena peperangan fitnah yang kita diharamkan untuk terlibat di dalamnya adalah peperangan yang terjadi antara dua kelompok muslimin yang keduanya berada dalam kebatilan, mereka saling bunuh karena keuntungan duniawi atau tidak jelas tujuannya sehingga tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.

Terlibat dalam peperangan semacam ini adalah terlarang. Kita telah diperintahkan untuk menghindarinya dan tidak terlibat di dalamnya dengan kontribusi apapun dalam kondisi apapun. Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi SAW, “Apabila dua orang muslim saling berhadapan dengan kedua pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama di neraka.” (Muttafaq ‘Alaih)

Terkat fitnah tersebut, beliau bersabda, “Maka barangsiapa mendapatkan tempat pengungsian atau perlindungan dari semua itu, hendaknya ia berlindung dengannya.” (Muttafaq ‘Alah)

Dalam fitnah semacam itu, seorang muslim menghindarkan diri darinya, menjauhkan diri daripadanya agar selamat dari getahnya, sehingga prinsipnya adalah, “Jadilah hamba Allah yang dibunuh dan jangan jadi hamba Allah yang membunuh.”

Adapun organisasi ISIS di Suriah, telah tampak kezaliman, pembangkangan, permusuhan dan kejahatan mereka terhadap jiwa dan harta. Mereka menjalin hubungan dengan agen intelijen dan organisasi-organisasi yang melakukan pelanggaran HAM di Suriah serta bermaksud menggagalkan revolusi dan jihad warga Suriah. Oleh karena itu, memerangi mereka adalah perintah syariat, bahkan kewajiban syariat, demi mencegah keburukan dan kejahatan mereka.

Imam At-Thabari mengatakan, “Seandainya sesuatu yang wajib dilakukan dalam setiap perkara khilaf (perbedaan) yang terjadi antara dua kelompok kaum muslimin adalah lari menghindar daripadanya dan berdam diri menetap di rumah, niscaya tidak akan ditegakkan kebenaran dan tidak akan dihilangkan kebatilan.” (Dinukil oleh Al-Qurthubi dalam Tafsirnya)

Imam Ibnu Batthal dalam Syarah Shahih al-Bukhari mengatakan, “Adapun apabila telah tampak pembangkangan dari salah satu kelompok, maka tidak boleh bagi seorang muslim mundur dari memerangi kelompok pembangkang karena firman Allah: Maka perangilah kelompok yang membangkang hingga mereka kembali kepada perintah Allah. Seandainya kaum muslimin menahan diri untuk tidak terlibat dalam memerangi kelompok pembangkang, niscaya kewajiban Allah akan mandul.”

Beliau mengatakan, “Barangsiapa yang bimbang dalam masalah ini, maka wajib baginya menghindari kedua kelompok tersebut dan menetap di rumah hingga menjadi jelas baginya kebenaran dan menjadi terang mana kelompok yang benar dari kedua kelompok tersebut, sehingga tersingkaplah syubhat yang menyelimuti, lalu ia menolong para pembela kebenaran.”

Penutup

Sesungguhnya organisasi ISIS d Suriah merupakan perpaduan antara ekstrimisme, radikalisme dan takfir. Mereka adalah kelompok Bughot (pembangkang) tingkat tertinggi. Mereka memadukan antara tindakan memecah-belah barisan mujahidin dan pejuang revolusi melalui penyebaran doktrin-doktrin Khawarij dengan tindakan menjadi boneka intelijen Rezim Asad dan sekutunya. Dari sini, kita memahami fenomena tidak adanya serangan dari pihak Rezim Asad ke arah wilayah-wilayah dan pos-pos mereka serta tidak adanya perlawanan dari mereka terhadap Rezim Asad dan sekutunya dalam pertempuran-pertempuran. Bahkan mereka mengarahkan segenap kekuatan mereka untuk memerangi mujahidin yang berhadapan dengan tentara Rezim Asad. Dari sini, maka wajib hukumnya secara syariat untuk memerangi mereka dan menggagalkan misi-misi mereka sampai tak tersisa jejak mereka di Suriah dan di negeri mereka sendiri.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

17 Sya’ban 1435 H bertepatan dengan 15 Juni 2014 M

Sumber: http://www.islamsyria.com/portal/article/show/5529

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: