Berjanji Bertemu di Surga

Dahulu, di kota Kufah terdapat seorang pemuda yang tampan dan rajin beribadah. Suatu saat dia mampir ke kampung Bani An-Nakha’. Di sana ia melihat seorang wanita cantik sehingga jatuh cinta padanya. Dan ternyata, si wanita cantik ini pun memiliki perasaan yang sama terhadap pemuda itu. Karena perasaan cintanya itu, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang untuk melamarnya. Tetapi ayah wanita itu menjawab bahwa putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, keduanya tetap saling mencintai.

Wanita itu akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya:

“Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji denganmu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan memberikan jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.”

Pesan itu dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya:

“Aku tidak setuju dengan dua tawaranmu itu. Sungguh aku merasa takut kalau aku berbuat maksiat kepada Tuhanku, aku akan tertimpa siksaan pada hari yang besar (kiamat). (QS. Yunus: 15). Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.”

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia bergumam dalam hati, “Rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.” Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mengisi hidupnya hanya dengan beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan semakin kurus menahan perasaan cinta dan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia.

Sang pemuda merasa sedih dengan meninggalnya kekasihnya itu. Ia pun sering berkunjung ke kuburannya. Sambil menangis ia mendoakannya. Suatu hari dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”

Wanita itu menjawab, “Sebaik-baik cinta -wahai orang yang bertanya- adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan.”

Pemuda itu bertanya lagi, “Kalau begitu, hendak pergi kemana kamu sekarang?”

Wanita itu menjawab, “Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”

Pemuda itu berkata, “Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.”

Wanita itu menjawab, “Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah Ta`ala) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.”

Pemuda itu bertanya lagi,”Kapan aku bisa melihatmu?”

Wanita itu menjawab,”Tak lama lagi kau akan datang melihatku.”

Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Alloh menuju ke hadirat-Nya, meninggal dunia.

Sumber: Kitab I’tilalul Qulub karangan Al-Kharaithi

2 komentar

  1. Kisah lama yang pernah saya baca di Raudhatul Muhibbin.

    1. Ya, Ibnul Qayyim dalam kitab Raudhatul Muhibbin juga menyebutkan kisah di atas, dan beliau menukilnya dari sumber yang sama dengan kitab di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: