Fikih Qurban

Fikih Qurban

Bulan Zulhijjah adalah bulan yang di dalamnya terdapat berbagai keutamaan. Di antaranya adalah Allah SWT menyukai ibadah para hamba-Nya di bulan tersebut, khususnya 10 hari pertama. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ

“Tidak ada hari yang ibadah di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini.” (HR. Tirmidzi). Yaitu 10 hari pertama di bulan Zulhijjah. Oleh karena itu, dianjurkan memperbanyak ibadah pada hari-hari itu misalnya berpuasa, shalat, bersilaturrahim, bersedekah dan lain sebagainya.

Disunnahkan menyembelih hewan qurban pada tanggal 10, 11, 12 dan 13 Zulhijjah. Rasulullah SAW bersabda:

مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada satu perbuatan pun pada hari raya qurban yang lebih dicintai oleh Allah daripada menumpahkan darah (menyembelih hewan qurban). Sungguh hewan itu kelak para hari kiamat akan datang dengan tanduk, bulu dan kukunya. Sesungguhnya pahala qurban diterima di sisi Allah sebelum darah hewan itu sampai ke tanah.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lain: (فِى الأُضْحِيَةِ لِصَاحِبِهَا بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ) “Dalam setiap helai bulu hewan qurban itu ada satu pahala kebaikan.”

 

  1. Arti Qurban

Qurban berasal dari dalam Bahasa Arab yang berarti dekat. Dalam kajian fikih, qurban sering dikenal dengan istilah udh-hiyyah yang artinya adalah kambing yang disembelih pada waktu pagi (dhuha) setelah matahari terbit hingga sebelum waktu zhuhur. Adapun secara istilah syar’i, udh-hiyyah berarti hewan yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijjah) dan hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Zulhijjah) sebagai upaya untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT, sehingga kemudian dinamakan qurban karena sembelihan itu diniatkan untuk ber-taqarrub kepada Allah SWT. Jadi, sembelihan yang tidak diniatkan untuk ber-taqarrub kepada Allah tidak dinamakan qurban. Begitu juga hewan yang disembelih di luar Hari Raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq tidak disebut qurban, atau dilakukan pada hari-hari tersebut tapi dengan niat lain seperti akikah dan sebagainya juga tidak disebut qurban.

  1. Dalil dan Sejarah Disyariatkannya Qurban

Menyembelih hewan qurban disyariatkan dalam Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Adapun dalam Al-Quran, firman Allah SWT, “Maka shalatlah untuk Rabbmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2). Sedangkan dalam As-Sunnah, banyak hadits yang menerangkan tentang keutamaan qurban sekaligus perbuatan Rasulullah SAW menyembelih hewan qurban. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi SAW berqurban dengan dua ekor kambing (kibas) berwarna putih yang bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri seraya menyebut asma Allah dan bertakbir (bismillahi wallahu akbar). Beliau meletakkan kaki beliau di atas belikat kedua kambing itu (ketika hendak menyembelih). (HR. Muslim)

Dalam hadits lain, Nabi SAW bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa memiliki kemampuan (untuk berqurban) tapi tidak berqurban, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat shalat kami.”

Qurban disyariatkan pada tahun kedua Hijriah bersamaan dengan disyariatkannya shalat Idul Fitri dan Idul Adha dan zakat mal.

 

  1. Hikmah Disyariatkannya Qurban

Menyembelih hewan qurban mengingatkan kita pada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika beliau diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya sebagai bukti penghambaan dan rasa cinta kepada Allah, hingga akhirnya Allah pun mengganti dengan hewan qurban untuk disembelih sebagai ganti putranya. Semua itu menjadi pelajaran bagi kita dan umat Islam lainnya agar mendahulukan cinta kepada Allah di atas segala cinta. Ketaatan kepada Allah harus dilakukan meskipun tampak sangat berat dan sulit dilakukan. Dan setiap ketaatan yang dilakukan dengan dengan tulus dan ikhlas akan membuahkan keridoan dan kecintaan dari Allah SWT sehingga Dia akan memberikan balasan yang lebih baik bagi hamba-Nya. Di samping itu, hikmah dari disyariatkannya qurban adalah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kehidupan dan hewan ternak, sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, khususnya kaum fakir dan miskin, juga sebagai bukti pengamalan sunnah Nabi Ibrahim AS yang dilanjutkan oleh Nabi Muhammad SAW.

  1. Hukum Qurban

Jumhur fuqoha (mayoritas ahli fikih) berpendapat bahwa qurban hukumnya sunnah muakkadah. Sedangkan menurut sebagian ulama, qurban hukumnya wajib. Hal ini berlaku bagi orang yang mampu, jika tidak mampu maka hukumnya sunnah menurut seluruh ulama. Kecuali bagi orang yang telah bernazar ingin berqurban, maka hukumnya berubah menjadi wajib, baik orang yang bernazar itu kaya maupun miskin. Contoh nazar adalah ucapan seseorang, “Saya bernazar (berjanji) akan menyembelih hewan qurban.” Begitu juga orang yang mmenunjuk salah satu hewan ternaknya sambil mengatakan, “Hewan ini adalah hewan qurban.” Maka ia wajib menyembelihnya di hari raya qurban.

  1. Syarat-Syarat Qurban

Adapun syarat-syarat qurban adalah sebagai berikut.

Pertama, orang yang berqurban harus beragama Islam, berakal sehat, baligh dan bukan seorang budak. Maka tidak sah qurban dari non-muslim, orang gila, anak kecil yang belum baligh atau budak. Kemudian ketika menyembelih harus berniat untuk qurban, bukan untuk akikah atau yang lainnya.

Kedua, hewan qurban harus berasal dari jenis unta, sapi, kerbau atau kambing. Maka tidak sah qurban dengan ayam, kelinci dan lain sebagainya meskipun jumlahnya banyak sehingga setara dengan kambing atau bahkan lebih. Adapun kambing, maka hanya cukup untuk satu orang saja, sedangkan sapi, kerbau atau unta boleh untuk tujuh orang dengan cara patungan. Umur kambing minimal satu tahun, sapi minimal dua tahun, sedangkan unta minimal lima tahun. Kemudian, hewan tersebut harus sehat dan sempurna fisiknya, bukan hewan yang sakit atau cacat misalnya buta, picek (buta salah satu matanya), pincang, tak punya lidah, hidung, kuping, ekor serta cacat-cata parah lainnya. Adapun hewan yang tak punya tanduk atau tanduknya pecah maka diperbolehkan.

  1. Waktu Menyembelih Hewan Qurban

Menyembelih hewan qurban dimulai sejak terbit matahari tanggal 10 Zulhijjah (hari raya Idul Adha) setelah menunaikan ibadah Shalat Ied. Sedangkan batas akhirnya adalah tanggal 13 Zulhijjah (hari tasyriq terakhir). Maka tidak sah menyembelih di luar waktu itu. Dianjurkan penyembelihan dilakukan siang hari.

  1. Anjuran dan Larangan

Sebelum menyembelih hewan qurban dianjurkan untuk mengikat dan merawat hewan tersebut sebaik-baiknya. Dianjurkan pula menggantungkan sesuatu di leher hewan sebagai tanda bahwa hewan tersebut akan disembelih untuk qurban. Perbuatan ini merupakan salah satu bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah. Dalam Al-Quran disebutkan, “Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka hal itu termasuk salah satu bentuk ketakwaan di dalam hati.” (QS. Al-Hajj: 32). Ketika berjalan menuju tempat penyembelihan, dianjurkan untuk membawa hewan qurban dengan cara yang paling baik, bukan menyeretnya dengan kasar. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan perilaku baik atas setiap sesuatu. Apabila kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Apabila kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, pertajam pisaunya dan tenangkan hewannya.” (HR. Muslim)

Dianjurkan bagi orang yang hendak berkurban untuk tidak memotong atau mencabut rambut atau kuku sejak malam Idul Adha sampai hewan tersebut disembelih. Sebagian ulama bahkan mewajibkan hal itu. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلا مِنْ بَشَرِهِ شَيْئًا

“Apabila telah masuk tanggal 10 Zulhijjah sedangkan salah seorang di antara kalian ingin menyembelih qurban, maka janganlah ia menyentuh sedikit pun dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim)

Diharamkan menjual daging kurban, kecuali bagi fakir-miskin yang telah menerimanya karena daging itu telah menjadi haknya sehingga ia berhak melakukan apapun yang ia kehendaki.

Diharamkan memberikan sebagian dari hewan kurban kepada pihak penyembelih (jagal) sebagai upah dari jasa penyembelihan.

One comment

  1. Semoga dengan memahami hukum dan hikmah-hikmah qurban semakin banyak yang tergerak dan sadar bahwa melaksanakan qurban adalah ibadah yang memiliki manfaat besar dalam sosial kemanusiaan

    jazakumullah Khoir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: