Musafir dan Pemilik Keledai

“Pak, bisakah bapak mengantarkan saya?” tanya seorang lelaki pada seorang pemilik keledai pada suatu hari.

“Dengan senang hati, Anda mau pergi ke mana?” tanya pemilik keledai yang bekerja sehari-sehari sebagai penjual jasa angkut di kota Damaskus.

“Saya mau ke Zabadani” jawab lelaki tersebut.

Pemilik keledai pun mempersilahkan lelaki musafir tersebut untuk menaiki keledainya, lalu ia pergi bersamanya mengantarkannya.

Lelaki musafir tersebut yang mengusulkan kepada pemilik keledai agar melewati sebuah jalan yang menurutnya lebih singkat dan memotong jarak,

“Lewat jalan ini saja, lebih dekat!” ujarnya sambil menunjuk ke arah jalan yang dimaksud.

“Saya kurang berpengalaman lewat jalan ini” kata pemilik keledai ragu.

“Tidak apa-apa, lewat sini lebih dekat” tambah si musafir.

“Apakah Anda yakin?” tanya pemilik keledai memastikan.

“Ya” jawabnya.

Akhirnya pemilik keledai pun menuruti usulan si musafir. Mereka pun menapaki jalan tersebut. Jalan itu sangat sulit dilewati oleh kendaraan, sebuah jalan yang tidak rata dan tidak lazim dilewati oleh manusia.

Hingga sampailah mereka di sebuah lembah yang sangat dalam, di situ terdapat banyak sekali bangkai manusia.

“Tolong pegang tali kendali keledai ini sebentar, saya mau turun!” kata si musafir kepada pemilik keledai. Tanpa rasa curiga, pemilik keledai itu pun menuruti apa yang dikatakan si musafir.

Lalu musafir itu turun dan mengambil barang-barang miliknya sambil menyingsingkan lengan bajunya. Lalu secara diam-diam ia mengambil sebilah pisau yang sudah dipersiapkan sebelumnya sambil mendekati pemilik keledai. Tampaknya pemilik keledai mengetahui rencana jahat musafir itu. Ia pun segera lari sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri. Si musafir mengejar dan berhasil menangkapnya. Akhirnya, dengan rasa pasrah si pemilik keledai mengatakan kepada si musafir, “Ambil saja keledaiku ini sekaligus semua barang-barang milikku jika kau mau, tapi lepaskan aku!”.

Si musafir menjadi garang.

“Keledai itu sudah jadi milikku. Aku hanya ingin membunuhmu” ujarnya dengan sorot mata mengerikan.

Si pemilik keledai berusaha mengingatkannya dengan nasehat-nasehat dan ancaman Allah swt di akhirat. Namun tidak mempan. Si musafir tetap ingin membunuhnya.

Pemilik keledai pun akhirnya pasrah dan menyerah, lalu mengatakan,

“Baiklah, kalau begitu saya hanya ingin memohon satu permintaan sebelum Anda membunuh saya” kata pemilik keledai.

“Katakanlah!”

“Tolong izinkan saya untuk sholat dua rakaat terlebih dahulu”.

“Tak mengapa, tapi cepat!” jawab si musafir kasar.

Si pemilik keledai pun berdiri untuk melaksanakan sholat sementara lelaki musafir itu mengawasinya. Namun pemilik keledai tak bisa berkonsentrasi dalam shalatnya. Lidahnya kelu, mulutnya kaku, pikirannya tidak menentu, jantungnya berdetak tak beraturan, keringat dingin bercucuran, ia tidak tahu apa yang mau ia baca, semua hafalannya hilang, bahkan satu huruf pun tak ingat. Akhirnya ia hanya berdiri tertegun. Pikirannya kosong.

Si musafir pun tampak tak sabar, “Cepat selesaikan sholatmu!” teriaknya.

Tanpa disadari, tiba-tiba terlantun dari bibir pemilik keledai tersebut ayat ke 62 surat An Naml,

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang menjawab (doa) orang yang berada dalam keadaan terjepit apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan “.

Tiba-tiba muncullah seorang lelaki yang dari mulut lembah mengendarai kuda dan membawa tombak besi. Lalu ia melepaskan tombak besi tersebut ke arah si musafir dan tepat mengenai jantungnya, tidak meleset sedikitpun. Si musafir pun mati terkapar seketika.

Seusai shalat, si pemilik keledai tersebut tercengang dengan apa yang baru saja ia saksikan di depan matanya, “Demi Allah, siapakah Anda?” tanyanya penuh penasaran.

Pengendara kuda tersebut menjawab, “Aku adalah utusan dari siapakah yang dapat menjawab orang yang berada dalam keadaan terjepit ketika berdo’a meminta kepada-Nya dan menghilangkan keburukan”.

Lalu pemilik keledai tersebut membawa kembali keledainya dan pulang dengan selamat.

(Lihat Tafsir Ibn Katsir surat An Naml : 62)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: