Kesungguhan dan Harga Surga

“Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.”

Petikan paragraf di atas merupakan pembukaan artikel berjudul Membangun dan Membina Militansi Kita yang ditulis oleh Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah. Sebuah pembukaan singkat namun menyentak hati setiap orang yang membacanya. Bagaimana tidak, sementara detik terus berdetak, hari terus berlari, waktu berlalu menorehkan catatan-catatan sejarah yang takkan pernah berhenti hingga matahari terbit dari barat. Sejarah telah mencatat keberhasilan orang-orang besar yang telah mengisi waktunya dengan jiddiyah (kesungguhan) dan bukan bersantai-santai, berleha-leha dan bertopang dagu sambil berangan-angan.

Tidak. Sekali-kali tidak. Bahkan dalam perjalanan mencari hidayah pun diperlukan sebuah kesungguhan hati. Sejarah tak pernah lelah mencatat semua kisah kehidupan manusia. Semuanya terekam dengan jelas dan detil. Siapa membaca akan mendapatkan pelajaran. Siapa acuh tak acuh akan terjatuh pada lubang yang sama.

Dalam Al-Qur’an sendiri Allah menegaskan berkali-kali dalam banyak ayat-Nya,

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. Ali Imran: 137)

Orang yang cerdas takkan mau terperosok pada lubang yang sama. Orang yang sadar akan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Bagaimanakah nasib akhir para pejuang tangguh yang dengan gigih tanpa menyerah mempertahankan prinsip-prinsipnya? Bagaimanakah nasib para pecundang yang mudah menyerah hanya dengan secuil rintangan?

Ya, semua itu sudah jelas jawabannya. Orang-orang yang bersungguh-sungguh akan memanen hasil kesungguhannya di kemudian hari. Demikian pula orang-orang yang bermalas-malasan akan menanggung sendiri akibat kemalasannya.

Jika kita membuka kembali catatan biografi orang-orang besar, akan kita temukan hal-hal luar biasa yang pernah mereka hadapi. Bagaimana seorang Imam Ahmad bin Hanbal harus rela kulitnya terkelupas karena cambukan para sipir di penjara tirani karena mempertahankan akidahnya untuk tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Sebelumnya, Yasir dan Sumayyah, sepasang suami istri yang telah melahirkan Ammar harus rela darahnya tertumpah, bahkan Sumayyah harus rela kemaluannya terhujam tombak, demi mendapatkan janji Nabi SAW:

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena tempat tinggal kalian adalah di surga”

Demikian pula Bilal yang harus bertahan di atas siksaan yang tidak manusiawi yang ditimpakan atas dirinya. Bahkan Rasulullah SAW sendiri, sang pembawa risalah amanat dari Rabb semesta alam harus merelakan gigi beliau yang patah karena lemparan batu penduduk Thaif ketika beliau berhijrah.

Namun, berkat kegigihan mempertahankan prinsip, kini nama-nama mereka senantiasa harum dikenang dalam sejarah. Nama mereka telah tercatat dengan tinta emas dan akan terus dikenang hingga akhir masa.

Ternyata harga surga sangat mahal, kawan. Kita harus memiliki dana yang cukup untuk membelinya. Surga tidak diberikan secara gratis. Harus ada transaksi jual beli. Harus ada harga yang sesuai. Harus ada pengorbanan.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah: 111)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah: 214)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran: 142)

Marilah kita mulai dari sekarang untuk memperbaiki diri. Mari kita kembali berkaca. Sejauh manakah kesungguhan kita selama ini. Seberapa besarkah pengorbanan yang telah kita sumbangkan untuk tegaknya agama ini. Seberapa banyakkah dana yang kita miliki untuk membeli surga nanti di akhirat. Tentu, setiap kita mengharapkan jannatul firdausil a’la, surga Firdaus yang tertinggi.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menjadi para pembela agama-Nya. Semoga Allah mengaruniakan kita kesabaran untuk menapaki hidup ini dengan ridho-Nya. Semoga Allah mengumpulkan kita di akhirat nanti bersama hamba-hamba-Nya yang Dia cintai.

Amin, Ya Rabbal Alamin.

Damaskus, 4 August 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: