Yahya Bin Syaraf An-Nawawi

Hari itu, di aula gedung pengadilan (dar ul-‘adl) berlangsung acara tatap muka antara Raja Baibers Al-Bundakdari dengan para ulama. Penguasa Damascus ini berusaha menarik dukungan ulama guna melegitimasi niatnya untuk menambahkan pajak rakyat guna membiayai perang Arab-Mongol yang sedang berkecamuk pada saat itu. Satu persatu ulama itu mengemukakan pendapatnya. Mereka setuju, tentu dalam tekanan, dengan kebijakan menambah pajak itu hingga tiba giliran seorang ulama terakhir yang belum mengemukan pendapatnya. Ulama yang satu ini masih tampak belia. Kulitnya putih, jenggotnya tebal dan penampilannya sangat berwibawa.

Tokoh ini lalu berdiri dan mulai berbicara. Tidak seperti ulama lainnya yang hadir di ruangan itu, ia menyatakan ketidak setujuannya. Menurutnya rakyat pada saat itu sudah cukup tercekik akibat paceklik dan krisis ekonomi karena perang. Maka tidak pantas ditambahkan beban mereka dengan tambahan pajak yang sebenarnya bisa dihindari. Bukankah keluarga kerajaan dan para pejabat hidup dalam kemewahan? Kekayaan mereka berlimpah ruah, bahkan sangat berlebihan dari kebutuhan. Mengapa mereka tidak mengeratkan sedikit ikat pinggang dan berkorban demi negara sambil berpartisipasi dalam penderitaan rakyat? Dengan begitu, masalah biaya perang akan teratasi sekaligus mengurangi kesenjangan sosial yang telah melebar.

Tokoh ulama ini terus mengajukan kritiknya di hadapan raja. Penguasa Damaskus yang perkasa mengusir Mongol dari tanah Syam itu hanya bisa terdiam. Mukanya merah padam menahan marah. Akhirnya pertemuan itu ditutup dengan keputusan membatalkan niat raja menambahkan pajak rakyat. Setelah para ulama itu bubar meninggalkan aula, raja yang sejak tadi menahan emosinya itu memanggil ajudannya.

Ia berkata, “Selidiki orang itu. Jika ia seorang guru di sebuah sekolah, perintahkan rektor sekolah itu untuk memotong gaji dan tunjangannya!”

Dengan takut-takut, ajudan itu berkata, “Maaf tuanku. Gaji dan tunjangan orang itu tidak bisa dipotong.”

“Mengapa?” Tanya raja dengan nada keras.

“Sebab,” ajudan itu menjawab, “orang tersebut memang tidak bersedia menerima gaji dan tunjangan apapun.”

Raja tertegun. Ia baru menyadari kebesaran tokoh yang dihadapinya. Raja berkata, “Demi Allah, ketika ia berbicara tadi, sebenarnya aku hendak memerintahkan seseorang untuk memenggalnya. Namun aku melihat dua ekor singa besar berdiri di belakangnya siap menerkamku. Oleh karena itu, aku hanya bisa terdiam ketakutan.”

Keajaiban

Siapa tokoh yang sedang kita bicarakan ini? Beliau adalah pemimpin mazhab Syafii di Damaskus, Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi bergelar Muhyiddin dan Muhyi Sunnah (penghidup agama dan sunnah Nabi Saw). Hidup An-Nawawi sangat singkat, namun sarat berkah dan penuh manfaat. Jika kita hitung lembaran buku-buku karangannya, lalu kita bandingkan dengan hari-hari sepanjang hidupnya, kita akan mendapati lembaran tulisannya ini jauh lebih banyak dari usianya. Kehadiran An-Nawawi di dunia ini seolah hanya untuk sebuah tugas penting. Segera setelah tugas itu rampung, An-Nawawi pergi meninggalkan dunia ini.

Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H. di desa Nawa, sekitar 90 km selatan kota Damaskus, dari kedua orang tua yang sangat saleh. Di desa kelahirannya, Yahya An-Nawawi menimba ilmu dari bapaknya, Abu Yahya Al-Hizami, dan Syeikh Yasin bin bin Yusuf Az-Zarkasyi. Tanda-tanda kecerdasan dan kezuhudan telah tampak pada diri An-Nawawi sejak kecil. Syeikh Yasin, gurunya, berkata, “Aku pernah melihat An-Nawawi kecil melarikan diri dari teman-temannya sambil menangis karena mereka memaksanya untuk bermain. Ia lalu membaca Al-Qur’an. Melihat hal itu, tumbuh rasa cinta di hatiku. Bapaknya menyuruhnya untuk menjaga toko, namun jual-beli tetap tak menyibukkannya dari membaca al-Qur’an. Aku lalu berkata kepada ayahnya: ‘Anak ini kelak akan menjadi orang ter’alim dan terzuhud di masanya.’”

Berusia 19 tahun, An-Nawawi datang ke Damaskus abad ke-7 hijriah yang kaya dengan ilmu dan ulama. Keajaiban masa kecilnya di Nawa kembali berulang di Damaskus. Ia menghafal Tanbih (kitab fiqih terbesar dalam mazhab Syafii) hanya dalam masa empat bulan. Menyusul referensi-referensi penting lainnya. Setiap hari, ia menghadiri dua belas pelajaran dari guru-guru yang berbeda dan di tempat-tempat yang berjauhan. Makanan yang menghidupinya di kota ini hanya sedikit kiriman yang diberikan ayahnya setiap minggu. Singkat kata, jauh dari pengawasan orang tua di tanah rantau, dengan bekal yang sangat minim, tidak membuat tokoh besar ini lupa diri. Tak ada hura-hura dan santai-santai di kamus orang besar. Sebaliknya, waktu dan kesempatan dipandang sebagai barang berharga yang tidak boleh lepas begitu saja. Dan cara pandang ini yang menghantarkan An-Nawawi menjadi tokoh terkemuka di Damaskus.

Masyarakat mengenal An-Nawawi sebagai seorang ulama yang benar-benar mewarisi peninggalan Nabi Saw. Ia seorang alim yang penuh dengan ilmu, seorang tokoh agama yang gigih mempertahankan sunnah dan memerangi bid’ah sekaligus seorang tokoh masyarakat yang mampu menyampaikan jeritan batin rakyat namun zuhud dari semua jabatan. Bayangkan kisah di atas. Andai An-Nawawi menyimpan ambisi politis tertentu dengan mengatas-namakan rakyat –seperti yang terjadi pada kebanyakan ulama dan tokoh-tokoh politik kita zaman ini; mereka mengeksploitasi rakyat demi kursi kepemimpinan– niscaya tak akan ada pertolongan Allah Swt untuknya. Dan tidak mungkin penguasa Damaskus merungkut ketakutan mendengarkan kritik pedasnya. Keikhlasan memang selalu membawa keajaiban.

Tajuddin As-Subki berkata, “An-Nawawi mengajar di Darul Hadits Al Asyrafiah dan lain-lain, namun enggan menerima gaji sepeserpun. Ia juga enggan pindah dari tempat tinggalnya yang terletak di Rawahiah meski kondisi rumah itu sangat memprihatinkan. Ia hanya minum satu kali sehari, yakni sebelum subuh. Ia tidak mau memakan buah-buahan Damaskus dan enggan menerima apapun dari orang lain.” Syeikh Muhammad Al-Akhmimi berkata, “Syeikh An-Nawawi berjalan sesuai cara hidup para sahabat Nabi Saw. Aku tak melihat orang lain di masanya yang berjalan dengan cara hidup mereka selain beliau.”

Suatu hari Alauddin Al-Athhar, murid utama An-Nawawi, keheranan. Syeikhnya menerima sebuah kendi pemberian seseorang. Padahal selama ini Syeikh selalu enggan menerima apapun dari orang lain. An-Nawawi berkata, “Kendi ini perlengkapan seorang musafir. Maka aku menerimanya.” Beberapa hari kemudian ia berziarah ke Baitul Maqdis, mengembalikan semua buku pinjaman dan pulang ke Nawa. Pada tanggal 24 Rajab 676 H, dalam usia 45 tahun, mutiara Damaskus ini meninggal dunia dan dimakamkan di desa kelahirannya.

Oleh: Ustadz Umar M Noor, MA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: