Misteri Takdir

Tersebutlah di suatu kota seorang pemuda bernama Abid. Pemuda tersebut sering menghabiskan hari-harinya di sebuah tempat tinggi menyerupai menara di dekat rumahnya. Ia gunakan hampir seluruh waktunya untuk beribadah, berzikir dan bertafakkur di sana. Sedikit sekali ia bergaul dengan manusia. Sedangkan di luar sana seorang pemuda seusianya yang bernama Ashy setiap hari lewat di depan menaranya dengan membawa botol arak sambil berjalan sempoyongan. Kehidupan Ashy berbeda sama sekali dengan Abid. Tak pernah berlalu sehari pun kecuali ia habiskan dengan kemaksiatan bersama kawan-kawannya.

Suatu hari Abid berpikir, “Enak sekali kehidupan mereka di luar sana. Setiap hari mereka selalu bersenang-senang bersama penari wanita dan arak. Tak pernah ada kesepian atau kesedihan. Hari-hari mereka penuh dengan canda tawa dan senda gurau.”

Pada saat yang sama, Ashy pun berpikiran demikian. Setelah kembali siuman dari keadaan mabuk ia tersadar akan dosa-dosa yang selama ini ia lakukan. “Alangkah nikmatnya hidup seperti Abid yang setiap hari selalu diisi dengan ibadah mendekatkan diri kepada Tuhan. Hidup dalam kesucian dan ketenangan.” Demikian pikirnya.

Pada hari berikutnya, Abid memutuskan untuk turun dari menara dan bergabung dengan gerombolan Ashy. Sementara pada saat yang sama, Ashy telah bertekad untuk mengakhiri kehidupan hitamnya yang selama ini berada dalam lumpur dosa. Ia ingin bergabung bersama Abid di menara untuk beribadah bersamanya. Ia sungguh ingin bertaubat.

Berjalanlah mereka pada waktu yang sama. Abid telah melepaskan pakaian yang selama ini ia gunakan untuk beribadah. Jubah, gamis, surban dan sajadah semuanya telah ia tanggalkan. Ia hendak turun dari menara. Sementara dari bawah, Ashy sedang menaiki tangga menara dengan pakaiannya yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Kini jenggotnya sudah tersisir rapi. Gamis, jubah dan surban yang telah ia poles dengan minyak wangi kasturi telah menempel di tubuhnya. Ia ingin segera menyusul Abid di atas sana.

Ketika sampai di tengah-tengah tangga menara, tiba-tiba Abid terpeleset lalu terjatuh dan menimpa Ashy. Mereka tergelincir di tangga lalu terjatuh bersama-sama dan meninggal seketika.

Wahai saudaraku, hidup ini penuh dengan misteri. Tak seorang pun yang dapat memastikan bagaimana kehidupannya akan berakhir kelak. Banyak orang-orang yang dahulunya bermaksiat dan berlumur dosa namun di akhir hidupnya ia menemukan cahaya hidayah lalu bertaubat dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Sebaliknya, berapa banyak orang-orang yang sejak kecil hidup dalam ketaatan dan ibadah, namun ia tidak menyadari dan tidak mensyukuri nikmat tersebut, lalu dengan mudahnya ia berpaling dari semua itu dan meninggal dunia dengan membawa su’ul khatimah. Itulah takdir. Tak seorang pun yang tahu apa yang akan ditakdirkan untuknya kelak.

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya ada seseorang di antara kalian yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga hanya tinggal satu hasta saja, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada seseorang di antara kalian yang melakukan amalan penduduk neraka dan amalan itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya tinggal satu hasta saja, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Itulah takdir yang sangat misterius. Beriman kepada takdir seharusnya dapat menghasilkan rasa khawatir yang amat sangat akan nasib akhir hidupnya dan menumbuhkan semangat yang tinggi untuk beramal dan istiqomah dalam ketaatan demi mengharap khusnul khatimah. Bukan sebaliknya, beriman kepada takdir bukanlah alasan untuk bermaksiat dan bermalas-malasan.

Suatu hari Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang pun di antara kalian –atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup– kecuali telah Allah tentukan tempat tinggalnya, di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia”.

Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: “Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri saja kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha?”

Rasulullah SAW menjawab: “Seseorang yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan seseorang yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara”.

Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah jalannya! Orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara”. (Shahih Muslim No.4786).

Seseorang pernah bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Abu Abdirrahman (panggilan Ibnu Umar), ada sebagian orang yang berzina, minum khamr, mencuri, dan membunuh lalu mengatakan: ‘semua itu sudah diketahui (ditakdirkan) oleh Allah, kami tidak dapat berbuat apapun (terpaksa melakukannya)'”.

Mendengar hal itu Ibnu Umar marah besar, lalu berkata, “Maha Suci Allah. Memang benar, bahwa Allah sudah mengetahui bahwa mereka melakukan semua perbuatan itu, tapi pengawasan Allah tidak pernah memaksa mereka untuk melakukannya. Perumpamaan pengawasan Allah adalah seperti langit yang menaungi kalian dan seperti bumi yang kalian pijaki. Kalian takkan pernah dapat keluar dari cengkeraman langit dan bumi. Demikian pula kalian takkan pernah bisa kabur dari pengawasan Allah (takdir-Nya). Sebagaimana langit dan bumi tak pernah memaksa kalian untuk berbuat dosa demikian pula ilmu Allah (takdir-Nya) tak pernah memaksa kalian untuk melakukannya”.

Lalu beliau melanjutkan lagi, “Sungguh, seseorang yang melakukan perbuatan dosa lalu mengakuinya dan merasa bersalah jauh lebih aku sukai daripada orang yang banyak berpuasa dan shalat malam akan tetapi ia mengatakan: Allah telah keliru bertindak terhadapku.” Na’udzubillai min dzalik. (kitab Risalatul Mustarsyidin tahqiq Abu Ghuddah)

Tak ada alasan bagi orang yang merasa banyak beribadah untuk sombong. Demikian pula tak ada alasan untuk orang yang terlanjur berlumur dosa untuk tidak bertaubat. Tak kata terlambat bagi setiap hamba untuk kembali kepada Allah. Kembali dengan sebenar-benar kembali (taubat nasuha).

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Imran: 133)

Semoga Allah memberikan karunia husnul khatimah bagi kita semua. Amin.

Damaskus, 22 July 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: