Konsep Tsiqat Dalam Ilmu Hadits

Otentisitas dan kredibilitas teks sejarah banyak bergantung kepada kapabilitas seorang ejarahwan dalam verifikasi dan validasi teks. Dalam ilmu hadis, relasi teks sejarah (dalam hal ini hadis yang diriwayatkan) dan sejarahwan (perawi hadis) sedemikian erat hingga penilaian kesahihan sebuah hadis sangat bergantung kepada penilaian obyektif tentang masing-masing personal yang tercantum dalam rantaian transmisinya. Semakin tinggi kapabilitas orang-orang ini semakin tinggi pula nilai hadis yang mereka riwayatkan, begitu juga sebaliknya.

Metode ini bermula ketika Al-Qur’an memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak mudah percaya kepada setiap informasi yang mereka dengar dan keharusan untuk selalu melakukan verifikasi (tabayun) terlebih dahulu, terutama jika informasi itu bersumber dari seseorang yang kepribadiannya tidak meyakinkan untuk dipercayai (fasiq). Kemudian terjadi peristiwa hitam (fitnah) pembunuhan Khalifah Usman bin Affan disusul dengan integrasi sebagian kalangan yang mencoba memecah belah kesatuan umat. Pada saat ini timbul upaya manipulasi sejarah Islam demi target-target politis tertentu, dan memalsukan hadis Nabi Saw merupakan cara yang paling menonjol pada saat itu. Ibn Sirin, salah seorang tabiin, berkata, “Sebelumnya mereka tidak bertanya tentang sanad. Setelah peristiwa fitnah itu mereka berkata: sebutkan para perawinya. Mereka lalu menerima riwayat ahli Sunnah dan menolak riwayat ahli bid’ah.”

Sejak saat itu, perhatian kepada rantaian sanad bertambah tinggi apalagi mereka sadar bahwa hadis Nabi Saw merupakan teks kedua pembentuk sendi-sendi akidah dan syariah agama Islam. Abdullah bin Mubarak berkata, “Sanad adalah bagian dari agama. Tanpa sanad sembarang orang bisa berkata sembarang ucapan.” Mereka hanya menerima riwayat yang bersumber dari orang-orang terpercaya atau apa yang mereka sebut dengan istilah tsiqat. Muhammad bin Yahya Az-Zuhli berkata, “Sebuah hadis tidak boleh dicatat kecuali hadis yang diriwayatkan oleh tsiqat dari tsiqat hingga Rasulullah Saw, (dalam rangkaian sanadnya) tidak ada orang yang tidak dikenal (majhul) ataupun yang tercela (majruh).”

1. Tsiqah Secara Bahasa dan Istilah

Tsiqat berasal dari kata kerja watsiqa yatsiqu yang berarti “mengikat, meneguhkan dan mempercayai (orang lain dalam memegang amanat).” Dari kata ini, lahir kata mitsaq yang bermakna “ikatan perjanjian yang sangat kokoh.” Seorang laki-laki (atau perempuan) tsiqat artinya “orang yang kokoh dan terpercaya dalam memegang amanat”.( ) Jadi tersimpan kesan hiperbolik dalam makna etimologis kata ini, yakni bukan hanya sekedar “terpercaya”, melainkan “sangat terpercaya”. Oleh karena itu, sebagian ahli hadits, misalnya Abdurahman bin Mahdi, menempatkan istilah ini di posisi puncak penilaian terhadap seorang perawi, meskipun mayoritas ahli hadis tidak mendukung pendapat ini. Ketika ditanya penilaiannya terhadap Abu Khaldah, “Tsiqat-kah ia?”, Ibn Mahdi menjawab, “Ia orang baik, jujur dan terpercaya. (Orang yang mencapai derajat) tsiqat hanya Sufyan dan Syu’bah.”

Secara istilah (terminologis), ahli hadis menggunakan kata ini untuk menunjukkan penilaian baik mereka terhadap orang yang memiliki reputasi kesalehan pribadi (‘adalah) dan sistem dokumentasi (dhabth) yang sempurna. Mereka tidak menerima orang yang hanya memiliki syarat pertama (‘adalah) jika tidak memiliki syarat kedua (dhabth), begitu juga sebaliknya. Kedua syarat ini harus terpenuhi hingga seorang perawi hadis berhak memperoleh predikat tsiqat dari ahli hadis.

Imam Malik berkata, “Aku menemukan di bawah tiang ini (ia menunjuk ke masjid Nabi saw) beberapa syeikh berusia 70-80 tahun, mereka berkata, “Rasulullah Saw bersabda…” namun aku tidak pernah mengambil hadis darinya. Andai salah satu dari mereka dititipkan harta, mereka sangat terpercaya. Namun mereka bukan tokoh ilmu ini (hadis).” Ali bin Al-Madini berkata tentang Hasan bin Abi Ja’far, “Aku meninggalkan hadisnya karena ia memukul ibunya.”

2. ‘Adalah

Ahli hadis menganalogikan penerimaan riwayat dengan penerimaan saksi dalam kasus perdata ataupun pidana. Seorang perawi hadis, seperti seorang saksi, harus memiliki syarat-syarat tertentu agar periwayatan atau persaksiannya diterima di depan hakim. Al-Khatib Al Baghdadi menulis, “Karena sebagian besar hukum tidak bisa diketahui kecuali melalui naql, maka kita harus meneliti keadaan dan keadalahan penyampainya. Barangsiapa orang yang diakui ‘adalah-nya, maka riwayatnya bisa diterima. Jika tidak, maka kita harus mencari dari jalur periwayatan yang lain. Penyampaian berita hukumnya seperti sebuah persaksian (yaitu keduanya) hanya diterima dari orang yang terpercaya.”

Persamaan antara periwayatan dan persaksian tidak sepenuhnya sempurna. Ada point-point tertentu yang membedakan keduanya sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Asy-Syafii di kitab Al-Risalah.

Kriteria ‘adil menurut ahli hadits adalah orang yang muslim, merdeka, tidak melakukan dosa besar dan tidak terus menerus melakukan dosa kecil. Imam Syafii ditanya, “siapakah ‘adil itu?”, beliau menjawab, “Tidak ada orang yang selamat sama sekali dari maksiat, namun jika seseorang tidak melakukan dosa besar dan kebanyakan amalnya baik maka dia ‘adil.

3. Dhabth

‘Adalah saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang diterima riwayatnya, namun disyaratkan agar riwayat seseorang diterima sifat dhabth. Dhabth adalah kapabilitas seseorang dalam menyampaikan hadits seperti yang ia terima tanpa perubahan sedikitpun. Untuk mengetahui tingkat dhabth seorang perawi, ahli hadits memiliki metode verifikasi riwayat yang mereka namakan dengan i’tibar. Metode ini terdiri dari dua tahap: pertama mengumpulkan semua hadits yang diriwayatkan seorang perawi tanpa meninggalkan satu hadits pun. kedua membandingkan setiap hadits yang ia riwayatkan itu dengan riwayat orang-orang tsiqah. Nilai ke-tsiqatan perawi ini diberikan sesuai dengan tingkat kesesuaian riwayatnya dengan riwayat mereka. Jika semua riwayatnya, atau sebagian besarnya, sesuai dengan riwayat mereka maka ia dinilai tsiqah. Jika semua diriwayatnya, atau sebagian besarnya, bertentangan dengan riwayat mereka maka ia dinilai tidak tsiqah (dhaif).

Meriwayatkan sesuatu yang bertentangan dengan riwayat orang yang lebih tsiqah atau lebih banyak jumlahnya adalah sebuah kesalahan yang memberikan nilai negatif bagi dhabth-nya di mata ahli hadits. Pertentangan dalam riwayat yang dapat mendhaifkan perawi itu adalah:

Pertama: Me-rafa’ Hadits yang Mawquf.

Contohnya: Abdurahman bin Abi Laila meriwayatkan dari Atha dari Ibn Abbas bahwa Nabi Saw mengucapkan talbiah dalam umrah hingga mengusap rukun ka’bah.

Demikian riwayat Ibn Abi Laila dengan marfu’ bahwa perbuatan ini dilakukan oleh Rasulullah Saw. Sementara itu, imam-imam ahli Mekah seperti Ibn Juraij, Abdul Malik bin Abi Sulaiman dan Hammam meriwayatkan hadits ini dari Atha dari Ibn Abbas tanpa menyebutkan Nabi Saw, yakni hadits ini mawquf perbuatan Ibn Abbas, bukan perbuatan Nabi Saw.

Ini menunjukkan bahwa Ibn Abi Laila keliru dalam riwayatnya sebab orang-orang yang lebih tsiqah dan jumlah mereka lebih banyak meriwayatkan hadist ini berbeda dengan riwayatnya. Me-rafa’ hadits mawquf dinilai sebagai sebuah kesalahan menurut ahli hadits sebab menjadikan sebuah ucapan atau perbuatan yang seharusnya dinisbahkan kepada seorang sahabat menjadi ucapan Nabi Saw. Kita diwajibkan menaati Rasulullah Saw namun kita tidak wajib menaati ucapan sahabat.

Al-Baihaqi berkata, “Merafa hadits ini salah. Ibn Abi Laila memang sering keliru dalam meriwayatkan hadits.”

Kedua: Menyambung Hadits yang Mursal.

Mirip dengan kesalahan yang pertama tadi jika seorang perawi menyambung sanad hadits yang diriwayatkan sekelompok perawi lain dengan terputus (washl al-mursal). Seperti yang dilakukan oleh Abdul Wahab At-Tsaqafi yang meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq dari bapaknya (Muhammad bin Ali Al-Baqir) dari Jabir ra bahwa Nabi Saw menetapkan hukum dengan satu saksi dan satu sumpah. Begitulah Ats-Tsaqafi meriwayatkan hadits ini dengan sanad bersambung (muttasil). Sementara Malik, Ibn Juraij, Sufyan Al-Tsauri, Abdul Aziz Al-Darawardi dan lain-lain meriwayatkan hadits ini dari Ash-Shadiq dari bapaknya dari Nabi Saw tanpa menyebut Jabir. Muhammad Al-Baqir dari seorang tabi’i, maka riwayatnya dari Nabi Saw disebut mursal. Semua ulama sepakat bahwa hadits muttashil boleh menjadi hujjah, sementara mereka berselisih apakah mursal hujjah atau tidak. Mayoritas ahli hadits tidak menerimanya menjadi hujjah.

Perselisihan ini menunjukkan bahwa Ats-Tsaqafi keliru dalam meriwayatkan hadits ini. Asy-Syafii mengomentari hadits Ats-Tsaqafi, “Para huffaz tidak menyebut Jabir, ini menunjukkan bahwa hadits ini keliru.” Begitu juga yang dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, Al-Tirmidzi, al-Uqaili dan lain-lain.

Ketiga: Keliru Menentukan Nama

Termasuk kesalahan yang dapat mengurangi nilai seorang perawi di mata ahli hadits adalah jika ia keliru meriwayatkan hadits dari seorang perawi ke perawi yang lain. Seperti yang dilakukan oleh Fahd bin Hayyan yang meriwayatkan dari Hisyam Ad-Dastawai dari Qatadah dari Anas dari Nabi Saw bersabda, “Seorang muslim seperti pohon padi. Kadang tegak, kadang menunduk.” Ibn Hibban berkata, “Ini keliru, seharusnya dari Qatadah dari Jabir.”

Jika kekeliruan-kekeliruan seperti ini banyak terjadi di hadits-hadits yang diriwayatkan seorang perawi, maka ahli hadits menilainya dhaif. Jika kekeliruan mendominasi semua, atau sebagian besar hadits-haditsnya, maka ahli hadits memberinya label matruk (harus ditinggalkan).

Sufyan Al-Tsauri berkata, “Tidak ada seorangpun yang selamat dari kekeliruan. Namun jika kelirunya terlalu banyak, sehingga mayoritas riwayatnya keliru, maka riwayat orang ini harus ditinggalkan.” Imam Asy-Syafii berkata, “Perawi hadits yang terlalu banyak salahnya dan ia tidak memiliki kitab catatan, maka kami tidak menerima haditsnya, sebagaimana kami tidak menerima seorang saksi yang terlalu sering keliru dalam persaksiannya.”

Keempat: Kekeliruan Fatal

Kesalahan-kesalahan seperti yang telah disebutkan di atas dianggap kesalahan kecil, dalam arti para pelakunya hanya dikritik telah melakukan kesalahan namun tidak dituduh berdusta. Ada kesalahan-kesalahan tertentu yang dilihat oleh ahli hadits sebagai kesalahan yang tak termaafkan. Setiap orang yang melakukan kesalahan ini tanpa ragu-ragu mereka tuduh sebagai pendusta. Kesalahan fatal itu adalah meriwayatkan dari seorang imam yang memiliki ribuan murid sesuatu yang tidak diriwayatkan oleh murid-muridnya yang lain. Yakni, ia bersendiri (tafarrada) dengan meriwayatkan sebuah hadits dari seorang imam tanpa ada orang lain yang mendukungnya.

Syu’bah bin Hajjaj ditanya, “Kapan seorang perawi haditsnya tidak boleh dicatat?” Syu’bah menjawab, “Jika ia meriwayatkan dari orang yang terkenal sesuatu yang tidak dikenal oleh orang-orang (maksudnya murid-murid orang itu) yang terkenal, maka haditsnya harus dibuang.”

Contoh: Furat bin Zuhair meriwayatkan dari Malik bin Anas berkata: Ibuku menceritakan kepadaku dari Ummi ‘Alqamah dari ‘Aisyah bahwa Nabi Saw bersabda, “Pencuri adalah orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, maka bunuhlah ia. Jika kamu takut berdosa (karena membunuhnya), maka dosa itu aku yang menanggungnya.”

Malik bin Anas seorang imam yang memiliki murid ribuan orang atau lebih, namun tidak ada seorangpun dari mereka yang meriwayatkan hadits ini selain Furat bin Zuhair. Ahli hadits melihat hal ini sebagai isyarat kuat bahwa Furat telah berdusta atas nama Imam Malik. Oleh karena itu Ibn Hibban berkata, “Furat bin Zuhair meriwayatkan dari Malik bin Anas hadits-hadits yang tidak pernah diriwaytakan oleh Malik sedikitpun. Tidak halal meriwayatkan haditsnya dan tidak boleh berhujjah dengannya.”

Penutup

Sebenarnya masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang dapat menurunkan derajat seorang perawi di mata ahli hadits dari seorang yang tsiqah hingga menjadi dhaif. Namun waktu tidak tersedia untuk menjabarkan itu semua pada saat ini.

*Artikel ini disampaikan untuk kajian ilmu hadist yang dikelola oleh Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCI NU Syria Libanon pada tanggal 4 Mei 2007 .

Oleh: Ustadz Umar M Noor, MA

2 komentar

  1. budi · · Balas

    Assalamualaikum….
    mintak izin untuk ambil maklumat dan menggunakannya dalam tugasan saya…t.kasih
    semoga dimudahkan segala urusan anda…🙂
    JazakAllahu Khairan

  2. M.abdul Mujib · · Balas

    Alhamdulillah bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: