Konsekuensi Perjuangan Dakwah

Perjuangan dakwah dalam rangka menegakkan Kalimatullah di atas muka bumi ini takkan pernah lepas dari cobaan, ujian, celaan dan sederet aral rintangan yang menghadang di sepanjang jalan. Namun bagi seorang mukmin yang tangguh, seluruh resiko yang dihadapinya dalam menapaki jalan ini diangap sebagai sebuah kewajaran, bahkan kelaziman. Karena jalan ini adalah jalan yang dahulu ditapaki oleh para nabi dan para pengikutnya.

Nabi Nuh as ketika mendapatkan wahyu untuk membuat sebuah bahtera pada musim kering ditertawakan oleh kaumnya. Memang secara logika sikap mereka seolah-olah benar, namun tidak demikian jika sudah berhubungan dengan wahyu. Wahyu tidak dapat dihakimi dengan akal.

Hal serupa dialami pula oleh Nabi Hud as, Shaleh as, Syu’aib as, Luth as, Musa as dan masih banyak lagi. Bahkan, baginda mulia Nabi Muhammad saw pun tak luput dari upaya pelecehan, penghinaan, penindasan bahkan penyiksaan dan usaha pembunuhan yang dilancarkan oleh kaum kerabatnya sendiri.

Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi umatnya yang hendak mengikuti jejak langkah mereka. Sebuah pertanyaan awal yang harus dijawab oleh setiap aktivis dakwah: sudah siapkah Anda terjun ke medan ini berikut segala resiko dan konsekuensi yang harus Anda hadapi? Jika belum, silakan pulang dan persiapkan diri baik-baik karena jalan ini tidak cocok untuk orang-orang yang berjiwa lemah dan tunduk di hadapan hawa nafsu. Jalan ini hanya khusus bagi mereka yang bertekad bulat menggadaikan semua yang dimilikinya demi terwujudnya cita agung: Hidup Mulia atau Mati Syahid. Jika Anda sudah siap, maka marilah kita merapatkan barisan dan melangkah bersama searah dan beriringan menuju satu tujuan.

Sungguh, beberapa rasul sebelum kamu telah diperolok-olokkan (Al An’am 10)

Maka mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali sesepuh kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mencemoohnya (Hud 38)

Menurut kami, kamu ini sudah menjadi orang gila (tidak waras) (Hud 54)

Kaum Tsamud berkata: “Hai Saleh, kamu (dahulu) sebelum ini adalah seseorang yang menjadi harapan kami, tetapi kamu sekarang melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami. Kami benar-benar meragukan agama yang kamu bawa itu.” (Hud 62)

Mereka berkata: “Hai Syuaib, apakah benar agamamu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan Tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami atau melarang kami mengatur harta kami sesuai kehendak kami. Kamu ini memang orang yang sangat baik dan cerdas.” (Hud 87)

Maka Fir’aun berpaling bersama tentaranya, dan mengatakan: “Musa itu memang seorang tukang sihir atau orang gila” (Adz Dzariyat 39)

Demikianlah tak seorang pun di antara para rasul yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, kecuali mereka mengatakan: “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila” (Adz Dzariyat 52)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: