Hakikat Kehidupan

Hidup merupakan medan penyaringan. Penyaringan yang memisahkan antara orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang kufur[1]. Penyaringan yang memisahkan orang-orang yang sabar dari orang-orang yang tergesa-tergesa[2]. Penyaringan yang memisahkan antara orang-orang yang yakin akan balasan Allah SWT –baik di dunia maupun di akhirat– dari orang-orang yang tidak percaya dengan itu semua.

Hidup adalah ujian. Ruangannya adalah dunia. Waktunya hanya beberapa puluh tahun. Soal-soalnya adalah problematika kehidupan yang datang silih berganti. Kisi-kisinya adalah pengalaman. Tips dan triknya adalah nasehat dan petuah. Jawabannya adalah keimanan, keikhlasan, keridhoan, kesyukuran dan amal shaleh. Bel akan berbunyi saat kematian tiba. Semua peserta ujian akan dikumpulkan di aula padang mahsyar untuk menyaksikan pengumuman. Semua rapor amalan akan dibagi. Tak ada sekecil atom pun jawaban kecuali telah tercatat dan diberi nilai[3]. Bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan ujian akan merasa tenang dan bahagia. Adapun mereka yang tergesa-gesa tanpa persiapan matang akan menyesal. Sedangkan yang tidak sabar dengan ujian tersebut lalu memilih keluar dari ruangan ujian secara paksa akan menyesal selamanya[4].

Saat-saat paling menegangkan adalah saat-saat penghitungan amal dimulai. Setiap orang akan mengetahui nilai hasil ujiannya masing-masing. Hati berdegup kencang tak beraturan. Keringat bercucuran, ada yang tergenang sampai tumit, ada yang sampai lutut, ada yang sampai leher dan ada yang tenggelam sama sekali oleh keringat sendiri. Saat itu adalah saat paling menentukan nasib setiap orang. Berbagai ekspresi wajah berbaur dalam berbagai situasi dan kondisi hati. Mulut komat-kamit tak jelas apa yang digumamkan. Lirihan-lirihan penyesalan terdengar di sana-sini[5]. Benar-benar situasi yang amat menegangkan.

Adapun orang yang diberikan rapornya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan rapornya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)[6].

Hidup ini hanya senda gurau dan main-main saja. Hidup ini hanyalah bermegah-megahan, berbangga-banggaan dengan harta dan anak[7]. Hidup ini hanya panggung sandiwara. Buat apa terus bersedih jika semua ini hanya sandiwara. Buat apa terlampau senang jika semua ini hanya permainan belaka.

Sedangkan akhirat adalah kehidupan sesungguhnya[8]. Kampung akhirat itulah sebenar-benar kampung tempat kita kembali kelak. Kenikmatan akhirat itulah kenikmatan yang sejati.

Barang siapa menginginkan kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami mau bagi orang yang Kami mau dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik[9].

Semoga kita mampu melewati hidup ini dengan baik sebagai seorang pemenang di akhir episode. Sebagai seorang juara. Sebagai seorang yang beruntung selamanya. Amin.

[1] QS Al Insan: 3
[2] QS: Al Baqarah: 214; Ali Imran: 142
[3] QS. Az-Zalzalah: 6-8
[4] QS. Yunus: 26-27
[5] QS. An-Naba:40
[6] QS Al Insyiqaq: 7-12
[7] QS. Al Hadid: 20
[8] QS. AL Ankabut: 64
[9] QS. Al Isra: 18-19

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: